Ketika Pep Guardiola Pecahkan Rekor Jose Mourinho

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelatih Manchester City Pep Guardiola. Reuters/Carl Recine

    Pelatih Manchester City Pep Guardiola. Reuters/Carl Recine

    TEMPO.CO, Jakarta - Menjelang tahun baru, Pep Guardiola, 47 tahun, berbunga-bunga hatinya. Di Stadion Etihad, kemarin dinihari, dia membuat status baru, yakni manajer yang tercepat dalam meraih 100 kemenangan di Liga Primer.

    Dalam laga itu, City menang atas tim promosi Sheffield United dengan skor 2-0. Dua gol itu dicetak oleh Kevin de Bruyne dan Sergio Aguero. Rekor sebelumnya dipegang oleh Jose Mourinho. Saat menangani Chelsea, di fase pertama, pelatih asal Portugal itu mencapai 100 kemenangan dalam 142 laga.

    “Seratus kemenangan dalam 134 pertandingan. Itu artinya, hanya 34 kali kami gagal menang. Tentu ini capaian yang luar biasa bagi klub, staf, dan para pemain,” kata dia selepas laga. Guardiola ogah berbangga sendiri. Menurut dia, dirinya hanya menjadi bagian dari tim besar yang mengelola klub tersebut.

    “Semua berarti kami telah melewati tiga musim yang luar biasa,” kata dia. “Terutama di Liga Primer yang mengharuskan konsistensi. Kami senang atas capaian ini.”

    Namun yang membuat dia lebih senang adalah kembalinya City pada jalur kemenangan. Sebelumnya, saat melawan Wolverhampton, mereka kehilangan tiga poin meski sudah unggul dua gol lebih dulu. Kemenangan keseratus ini tidaklah mudah. Mereka sempat kebobolan lewat aksi Lys Mousset. Tapi wasit Chris Kavanagh membatalkan gol itu setelah memutar video asisten wasit atau VAR.

    Dalam tayangan itu, Mousset terlihat offside. Keputusan ini membuat tim tamu menjadi sewot. Chris Wilder, manajer Sheffield, melakukan protes hingga ke ruang wasit saking kesalnya. Wilder memilih tak mengungkap percakapan dengan Kavanagh itu. Dari raut wajahnya, dia tidak puas atas jawaban wasit.

    Namun, meski kalah, dia mengungkapkan kebanggaan terhadap perjuangan para pemainnya di lapangan. Intinya, dia menyebutkan kepercayaan diri para pemainnya telah tumbuh. “Kami percaya itu bisa berbeda. Mereka bermain dengan baik melawan pemain fantastis dan manajer kelas dunia,” kata Wilder.

    Tak sepenuhnya keliru ungkapan Wilder itu. Pep Guardiola pun mengakui ketangguhan Sheffield United. “Hari ini saya menyadari mengapa Sheffield sebelumnya tidak pernah kalah dalam laga tandang,” kata Guardiola.

    Bagi Pep, kemenangan ini sangat menguntungkan bagi timnya. Apalagi sebelumnya, dalam waktu 48 jam, mereka bertanding melawan Watford yang disebutnya tim yang mengandalkan kekuatan fisik.

    Namun kegembiraan Guardiola tak bisa berlarut-larut. Rabu mendatang, pas di pergantian tahun, dia akan menghadapi tim yang lebih kuat lagi, yakni Everton. Setelah dipegang Carlo Ancelotti, The Toffees bangkit dari keterpurukan. Enam poin dia bungkus dalam dua laga. Yakni saat melawan Burnley dan Newcastle.

    Yang membuat Ancelotti senang, dia menemukan striker sang penggedor formasi lawan. Dia adalah Dominic Calvert-Lewin. Tiga gol kemenangan itu, 2-1 atas Newcastle dan 1-0 menang atas Burnley, dicetak oleh pemain berusia 22 tahun itu.

    Ternyata kehebatan Calvert-Lewin ini tidak muncul begitu saja. Saat masih menangani Napoli, Ancelotti mengungkapkan niatnya untuk memboyong pemain ini ke Seri A. Namun keinginannya itu menabrak tembok. Ancelotti menyatakan tidak melihat kemungkinan pemain didikan dari Sheffield junior itu bisa diangkut ke Naples. “Banyak mata yang memperhatikan dia,” kata dia.

    Dasar jodoh, pemecatan Marco Silva malah membuatnya berlabuh di Goodison Park. Mereka pun bertemu. Dia pun menantang Calvert-Lewin untuk melanjutkan kehebatannya. “Calvert-Lewin masih muda. Semua pemain muda memerlukan perkembangan dan fokus. Dia adalah pria yang rendah hati,” kata dia.

    Ancelotti, yang sejak awal menaruh perhatian besar pada lini serang, mendadak senang. Setidaknya stok penyerang yang dia punya terbilang cukup. Selain Calvert-Lewin, dia memiliki Cenk Tosun, Moise Kean, dan Richarlison.

    Persediaan pemain ini cukup bagi Don Carletto untuk menghadapi juara bertahan. Laga ini akan sangat menarik, karena keduanya pernah menangani tim yang sama, yakni Bayern Muenchen. Bedanya, Guardiola terbilang sukses dibanding Ancelotti yang dipecat di musim keduanya. “Saya ikut bersimpati kepada Ancelotti,” kata dia kala itu.

    DAILYMAIL | BBC | MIRROR | IRFAN B.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Studi Ungkap Kecepatan Penyebaran Virus Corona Baru Bernama B117

    Varian baru virus corona B117 diketahui 43-90 persen lebih menular daripada varian awal virus corona penyebab Covid-19.