Persema Tak Dendam Pemainnya Ditolak Masuk Tim Nasional

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Persema Malang melakukan pemanasan saat latihan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Jawa Timur,  (23/10). ANTARA/M Risyal Hidayat

    Pemain Persema Malang melakukan pemanasan saat latihan di Stadion Gelora Delta, Sidoarjo, Jawa Timur, (23/10). ANTARA/M Risyal Hidayat

    TEMPO Interaktif, Malang - Manajemen Persema Malang menyatakan tidak dendam terhadap  tim seleksi nasional  yang menolak tiga orang pemainnya, Kim Jeffry Kurniawan, Reza Mustofa Ardiansyah, dan Joko Ribowo, dalam seleksi pemain tim nasional U-23.

    Tim nasional ini dipersiapkan untuk menghadapi babak kualifikasi pra-Olimpiade 2012 di London untuk zona Asia dan SEA Games 2011 di Indonesia. Pelatih Persema Timo Scheunemann mengaku tidak mengetahui persis penyebab ketiga pemainnya dipulangkan.

    Ia mendapat informasi yang menyebutkan ketiga pemain ditolak karena Laskar Ken Arok, julukan Persema, menyeberang dari Liga Super Indonesia (LSI) ke Liga Primer Indonesia (LPI). “Saya tidak mau berpolemik panjang lebar. Saya hanya ingin perekrutan pemain ke tim nasional harus obyektif dan fair,  karena teknis dan bukan hal lain. Kondisi itu yang sekarang dialami pemain Persema,” kata Timo kepada Tempo, Kamis (13/1).

    Tanggapan pelatih berkebangsaan Jerman itu berhubungan dengan polemik antara manajer tim nasional Adjie Massaid dan pelatih Alfred Riedl. Adjie membolehkan pemain dari seluruh klub yang berkompetisi di LSI dan LPI untuk mengikuti pemain seleksi dan pemusatan latihan. Sedangkan Riedl menolak para pemain dari klub LPI mengikuti seleksi.

    Begitu pun, Timo menegaskan, Persema sama sekali tidak sakit hati, apalagi mendendam kepada siapa pun yang terlibat dalam penolakan ketiga pemainnya. Ia bisa memahami posisi Riedl. Persema siap mengirimkan ketiga pemain jika kembali dipanggil mengikuti seleksi dan pemusatan latihan.

    “Kami siap membela tim Merah Putih kapan pun. Tapi, karena persoalannya sudah terlanjur begini, klub asal pemain tidak dipersoalkan karena hanya mencederai obyektivitas," katanya. Ketiga pemain, ujar dia, merupakan putra Indonesia yang berhak diberi kesempatan untuk membela tim nasional, seperti hak yang didapat para pemain lainnya. Jangan ada diskriminasi,” kata pelatih kelahiran Kediri yang mahir berbahasa Indonesia dan Jawa itu.

    Pelatih berlisensi Asosiasi Sepakbola Uni Eropa (UEFA) menambahkan dua syarat. Pertama, permintaan harus datang langsung dari Alfred Riedl atau PSSI secara tertulis yang ditujukan ke manajemen Persema dan diatasnamakan Timo. Timo menolak pemanggilan lewat telepon seperti kebiasaan selama ini.

    Kedua, tidak ada pemusatan latihan atau training center (TC) jangka panjang bagi pemain-pemain Persema yang dipanggil, karena tidak akan efektif bagi tim nasional dan klub asal pemain. Timo mencontohkan, sebelum melawan Turkmenistan, 23 Februari dan 9 Maret nanti, pemain tak perlu mengikuti TC panjang.

    “TC pakai sistem jangka pendek. Cukup di klub dan gabung lagi beberapa hari sebelum laga. Hal ini juga diminta banyak klub. Harus ada win-win solution untuk kepentingan yang lebih besar dan luas bagi kemajuan persepakbolaan Indonesia sendiri,” katanya.

    Timo pun menyambut baik rencana Adjie Massaid yang ingin datang ke Malang untuk menjumpai dan berbicara dari hati ke hati dengan para pemainnya. Sekali lagi Timo meminta jangan ada diskriminasi dalam proses seleksi pemain tim nasional.

    Ia mencontohkan diperbolehkannya dua bersaudara Philip dan James Younghusband membela Filipina di Piala AFF 2010 meski keduanya tidak memiliki klub dan hanya berasal dari Younghusband Academy. “PSSI”-nya Filipina pun tak menghalangi duo Younghusband yang akan direkrut klub LPI Jakarta 1928.

    Abdi Purmono


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Rekor Selama Setahun Bersama Covid-19

    Covid-19 telah bersarang di tanah air selama setahun. Sejumlah rekor dibuat oleh pandemi virus corona. Kabar baik datang dari vaksinasi.