6 Pemilik Suara Dianggap Bermasalah, Ini Jawaban PSSI

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Suasana salah satu ruangan Kantor PSSI yang telah selesai direnovasi di areal Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, 2 Januari 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Suasana salah satu ruangan Kantor PSSI yang telah selesai direnovasi di areal Stadion Utama GBK, Senayan, Jakarta, 2 Januari 2015. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia membantah tudingan adanya enam pemilik suara PSSI yang bermasalah. Keenam pemilik suara tersebut adalah klub Arema Cronus, Bali United, Madura United, Bhayangkara FC, PS TNI, dan wakil asosiasi pemain.

    "Tidak ada kekeliruan terhadap keabsahan enam voters kami," kata anggota Komite Eksekutif PSSI, Tony Aprilani, ketika dihubungi Tempo, Senin, 17 Oktober 2016.

    Tudingan buramnya keabsahan enam pemilik suara PSSI diungkapkan Koordinator Save Our Soccer atau #SOS, Akmal Marhali. Menurut dia, status lima klub dan satu wakil asosiasi pemain tersebut tidak jelas dan nyata-nyata tidak memiliki dasar sebagai anggota PSSI yang memiliki hak suara. Arema Cronus misalnya, mengambil hak anggota yang sejatinya milik Arema Indonesia. Hal serupa juga dialami klub Bhayangkara United tiba-tiba menjadi anggota PSSI. Bhayangkara United dianggap merampas hak Persebaya Surabaya.

    Status anggota Bali United juga menjadi pertanyaan. Sebab klub tersebut memakai jatah slot Persisam Putra Samarinda. Keabsahan Madura United juga diragukan lantaran memanfaatkan slot milik Pelita Bandung Raya. Sedangkan PS TNI dianggap tak punya hak suara dan statusnya harus dikembalikan ke Persiram Raja Ampat sebagai pemilik suara yang sah.

    Tony Aprilani pun menyanggah tuduhan Akmal. Menurut Tony, tak ada yang salah dari keenam pemilik suara tersebut. Sebagai contoh lima klub yang kini berlaga di kasta tertinggi liga nasional, Indonesia Soccer Championships. Menurut Tony, kelima klub itu saat ini memakai slot klub-klub lama yang sedang tak bermain di kasta tertinggi Liga Indonesia.

    "Kalau misal, ada Persebaya yang main di level yang sama lalu mereka kami pinggirkan demi Bhayangkara United, nah itu baru salah," kata Tony.

    Menurut Tony, PSSI sudah mendapatkan petunjuk dari federasi sepak bola Asia atau AFC terkait dengan status kelima klub tersebut. Tony mengatakan AFC menjanjikan akan mendukung kelima tim tersebut masuk ke liga Indonesia.

    "Ada yang bisa langsung masuk ke divisi utama. Tapi kalau tim yang diputihkan (akibat ikut Liga Premier Indonesia) seperti Persebaya harus bergabung ke liga kasta terendah dulu," kata Tony.

    INDRA WIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Forbes: Ada Perempuan Indonesia yang Lebih Berpengaruh Daripada Sri Mulyani

    Berikut sosok sejumlah wanita Indonesia dalam daftar "The World's 100 Most Powerful Women 2020" versi Forbes. Salah satu perempuan itu Sri Mulyani.