Nottingham Forest, dari Era Tony Woodcok sampai Eric Lichaj

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi pemain Arsenal Alex Iwobi, saat Nottingham Forest mendapatkan penalti dari wasit Jon Moss pada pertandingan babak ketiga Piala FA di City Ground, Nottingham, 7 Januari 2018.  REUTERS/Darren Staples

    Ekspresi pemain Arsenal Alex Iwobi, saat Nottingham Forest mendapatkan penalti dari wasit Jon Moss pada pertandingan babak ketiga Piala FA di City Ground, Nottingham, 7 Januari 2018. REUTERS/Darren Staples

    TEMPO.CO, Jakarta - Nottingham Forest, yang menumbangkan Arsenal 4-2 pada babak ketiga Piala Asosiasi Sepak Bola Inggris (FA) di Stadion City Ground, Senin dinihari 8 Januari 2018, memiliki nama harum di sejarah sepak bola Eropa.

    Klub yang akrab dipanggil Forest ini, bukan sekadar klub dari divisi Championship –divisi di bawah Liga Primer Inggris- yang membuat kejutan di Piala FA, kompetisi sepak bola tertua di dunia, kali ini.

    Forest merajai kompetisi di Inggris dan Eropa pada era 1980-an dengan nama-nama pemain seperti penyerang sayap Inggris yang klasik, Trevor Francis, John Robertson, dan ujung tombak Tony Woodcock. Nama terakhir ini adalah sedikit dari nama pemain asal Inggris yang sukses bermain di luar negeri, yaitu FC Koln di Bundesliga Jerman.

    Pada era Woodcock, Forest merebur gelar juara European Cup 1979 yang kini dikenal dengan nama Liga Champions Eropa.    

    Forest juga menjuarai divisi tertinggi Liga Inggris –yang kini dikenal dengan nama Liga Primer- satu kali, yaitu pada 1977-78 dan menempati urutan kedua 1966-67 dan 1978-79. Di Piala FA, mereka menang dua kali, yaitu 1897-98 dan 1958-59.

    Tapi, sejak era Stuart Peace dan kawan-kawan pada era 1996, Forest yang dulu sangat identik dengan sosok manajer Brian Clough ini terus merosot dan belum pernah kembali ke Liga Primer lagi setelah era 1997-1999.

    Pekan lalu disebabkan kekalahan 0-1 di kandang, City Ground, melawan Sunderland dalam Championship, Forest memecat manajernya, Mark Warburton. Pasalnya, Warburton membuat Forest terpuruk di peringkat ke-14 dan hanya memenangi satu dari tujuh pertandingan terakhirnya.

    Gary Brazil, manajer akademi sepak bola Notingham Forest, yang menjadi manajer sementara tim senior Forest lantas membuat tim ini bermain 0-0 melawan Leeds United dan meraih kebangkitannya melawan Arsenal.

    Juara Piala FA dua kali ini terlihat bermain begitu bersemangat di setiap lini, meski Arsenal lebih mendominasi penguasan bola.

    Forest bermain lebih sederhana tapi lebih efisien dibandingkan Arsenal ketika menguasai bola. Hal itulah yang membuat pemain mereka, Eric Lichaj, mencetak gol pertama pada menit ke-20 sebelum melakukan tendangan keras spektakuler yang membuat tuan rumah ini memimpin 2-1. Skor akhir 4-2 untuk Forest.

    “Mereka tampak lebih tajam dan permainan mereka luar biasa. Mereka berusaha sangat keras memenangi setiap perebutan bola dan selalu berbahaya begitu melakukan serangan,” kata Manajer Arsenal, Arsene Wenger, setelah pertandingan.  

    Sedangkan Brazil, yang tampaknya lebih senang mengasuh tim junior di Forest, mengungkapkan kebanggaannya kepada tim asuhannya tersebut setelah menang di Piala FA.

    “Ini benar-benar sebuah proyeksi bagus buat siapapun yang akan menjadi manajer Nottingham Forest. Tak masalah di manapun anda berada di dunia ini, semua orang sudah pernah mendengar nama Nottingham Forest dan hari ini terbukti bahwa kami masih punya potensi,” kata Brazil.

    GUARDIAN | BBC | HARI PRASETYO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    4 Fakta Kasus Suap Pajak, KPK Bidik Pejabat Dirjen Pajak dan Konsultan

    KPK menetapkan pejabat Direktorat Jenderal atau Dirjen Pajak Kementerian Keuangan sebagai tersangka dalam kasus suap pajak. Konsultan juga dibidik.