Rabu, 19 September 2018

Liga Inggris: Sejarah di Manchester United, Masa Depan di City

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyerang Liverpool, Sadio Mane, mencetak gol ke gawang Manchester City dalam pertandingan Leg pertama perempat final Liga Champions di Anfield, Liverpool, 5 April 2018. REUTERS/Andrew Yates

    Penyerang Liverpool, Sadio Mane, mencetak gol ke gawang Manchester City dalam pertandingan Leg pertama perempat final Liga Champions di Anfield, Liverpool, 5 April 2018. REUTERS/Andrew Yates

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelatih Pep Guardiola dan Jurgen Klopp belum terhitung lama berkiprah di Liga Inggris. Tapi, keduanya membawa pembaruan yang penting buat timnya masing-masing dalam divisi tertinggi di sana, yaitu Liga Primer.

    Baca: Liga Inggris: Manchester City Juara, Begini Kata Guardiola

    Guardiola mengawali debutnya di Liga Inggris pada Februari 2016. Pada musim keduanya bersama Manchester City, pria Spanyol berusia 47 tahun ini berhasil membawa City kembali menjuarai Liga Primer untuk ketiga kalinya setelah 2012 dan 2014.  

    Sedangkan Klopp lebih dulu setahun dibandingkan Guardiola dalam melakukan debutnya di Liga Inggris.

    Pria Jerman berusia 50 tahun ini memang belum berhasil membawa Liverpool untuk meraih lagi trofi Liga Primer setelah puluhan tahun.

    Tapi, musim ini, Klopp berhasil membawa klub berjuluk Reds menembus kembali final Liga Champions Eropa dan berpeluang memenanginya untuk keenam kali setelah satu dekade.

    Keduanya membawa dinamika baru di Liga Inggris dan pembaruan dari segi gaya permainan dan strategi perekrutan permainan.

    Mantan pemain Inggris dan Liverpool, Jamie Redknapp, menulis artikel di koran Daily Mail, Minggu 14 April 2018, dengan judul yang menarik soal kedatangan Guardiola di City, yaitu, “Untuk Sejarah, Pergilah ke Manchester  United, Untuk Masa Depan, Pergilah ke City.”

    “Jika sekarang masih pemain muda dan punya kesempatan memilih klub, saya akan tanpa ragu memilih Pep Guardiola bersama Manchester City. Mereka sedang membangun dinasti baru yang kuat,” tulis Redknapp.

    “Manchester United  memenangi 20 gelar liga dan City lama berada di bawah bayang-bayang mereka. Tapi, tim biru langit itu kini menjadi daya tarik terbesar buat para pemain,” Redknap melanjutkan.

    Di mata Redknapp, Guardiola memenangi trofi Liga Primer Inggris pertama kali dengan cara yang lebih menarik dibandingkan dengan Jose Mourinho di Chelsea 2015.

    “Ketika Chelsea memenangi gelar pada 2015 di bawah asuhan Jose Mourinho, mereka memenangi beberapa pertandingan cukup dengan satu gol dalam paruh kedua musim. City tidak seperti itu. Mereka menolak menginjak pedal remnya,” kata Redknapp.

    Mourinho sekarang menangani Manchester United. Adapun gaya kepelatihannya, seperti yang dikatakan Redknapp itu, masih sama. Taktik ala parkir bus yang melekat pada diri Mou masih sering dipakai sehingga acap membuat permainan MU tak menarik.

    Guardiola dan Klopp membuat permainan City dan Liverpool menjadi lebih agresif baik dalam menyerang maupun saat bertahan. Pentingnya penguasaan bola ala Barcelona ditambah irama permainan yang semakin cepat dikembangkan Guardiola di City.

    Sedangkan Klopp terus mengembangkan keyakinannya tentang sepak bola menekan atau gegenpressing sejak sukses bersama Borussia Dortmund di Bundesliga Jerman.

    Setelah kehilangan bola, pemain langsung berusaha merebutnya kembali daripada bergegas mundur ke belakang.

    Satu hal lagi yang membuat Guardiola dan Klopp menjadi lebih baik dan progresif dibandingkan Mourinho, Arsene Wenger di Arsenal, dan Antonio Conte di Chelsea, adalah soal pilihan pemain-pemain barunya dan kemampuan memoles pemain lama.

    Baca: Liverpool: Setelah Rush-Dalglish, Terbitlah Era Klopp-Salah

    Dalam hal itu, jelas Guardiola dan apalagi Klopp lebih baik. Lihatlah Mohamed Salah dan Virgil van Dijk yang menjadi kekuatan baru di Liverpool, misalnya.


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    TGB Muhammad Zainul Majdi dan Divestasi Tambang Emas Newmont

    KPK mengusut aliran dana ke rekening TGB Muhammad Zainul Majdi, Gubernur Nusa Tenggara Barat. Dana itu diduga berkaitan dengan Newmont Nusa Tenggara.