Dua Pemain Isi Lini Belakang Timnas U-22 untuk Piala AFF

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Timnas U-22. Antara

    Timnas U-22. Antara

    TEMPO.CO, Jakarta - Asisten pelatih tim nasional Indonesia di bawah usia 22 tahun (Timnas U-22) Nova Arianto menyatakan lini belakang setidaknya akan diisi oleh dua pemain. Dengan kata lain akan ada sejumlah nama yang bakal tersingkir dari pemusatan latihan Timnas di Jakarta.

    Sejauh ini tim pelatih sudah mempunyai gambaran materi pemain yang akan mengisi di posisi bek. Nova memperkirakan ada enam pemain yang bisa dipulangkan. "Kami masih akan komunikasikan dengan jajaran pelatih lain," dia di Jakarta, Rabu, 16 Januari 2019.

    Nova menjelaskan dalam dua pekan ini tim pelatih baru melihat perkembangan pemain. Proses pengamatan dilakukan dengan menerapkan permainan internal. Selain itu, para pemain juga berlatih mengembangkan taktikal bertahan dan menyerang.

    Memasuki pekan ketiga, materi pemain akan semakin mengecil. Tim pelatih mulai fokus membangun tim menuju Piala AFF U-22 2019. Selanjutnya, para pemain bakal menjajal kekuatan di laga uji coba.

    Lebih lanjut, Nova menuturkan, lini belakang menjadi salah satu perhatiannya. Ia mengatakan sektor pertahanan menjadi tanggung jawabnya. Mantan pemain Timnas yang beroperasi sebagai bek itu ingin tembok pertahanan Garuda Muda kokoh. "Saya ingin lini belakang bisa lebih baik," ucapnya.

    Sementara di lini depan, Nova menilai ada tantangan tersendiri. Menurut dia, Timnas Indonesia kerap sulit mendapatkan striker berkualitas. Sebab, lanjutnya, di level kompetisi Liga Indonesia posisi sebagai penyerang kerap didominasi oleh pemain asing.

    Meski demikian, ia optimistis materi pemain di lini depan Timnas U-22 untuk Piala AFF U-22 cukup variatif. "Ada Ezra Walian, Marinus Wanewar, dan Dimas Drajat yang bisa kami dimaksimalkan," kata Nova.

    ADITYA BUDIMAN


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.