Emiliano Sala Tewas Saat Karirnya Sedang Menanjak

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Seorang suporter memegang foto Emiliano Sala di Nantes, setelah muncul kabar pesawat yang ditumpangi pemain baru Cardiff City itu hilang pada 22 Januari 2019. REUTERS/Stephane Mahe

    Seorang suporter memegang foto Emiliano Sala di Nantes, setelah muncul kabar pesawat yang ditumpangi pemain baru Cardiff City itu hilang pada 22 Januari 2019. REUTERS/Stephane Mahe

    TEMPO.CO, Jakarta - Pesepakbola asal Argentina Emiliano Sala menjadi korban pesawat jatuh dalam penerbangan dari Nantes, Prancis ke Cardiff, Wales. Penyerang berusia 28 tahun itu diprediksi tak selamat dari kecelakaan tersebut.

    Sala lahir di Santa Fe, Argentina, Sala memulai karir sepak bola sejak kecil. Dia berlatih bersama akademi San Francisco di Cordoba.

    Baca: 3 Hal Menarik tentang Emiliano Sala, Pernah Kalahkan Messi

    Karirnya tak terlalu menonjol. Dia baru dilirik klub Eropa Bordeaux pada usia 20 tahun. Kebetulan San Francisco merupakan akademi yang berafiliasi dengan klub asal Prancis tersebut.

    Semasa di Bordeaux, Sala pun mengalami kesulitan menembus tim utama. Dia bahkan terus dipinjamkan ke tim divisi dua dan tiga Prancis seperti Orleans, Niort dan Caen.

    Bordeaux menjual Sala ke Nantes pada 2015. Bersama Nantes perlahan tapi pasti Sala mulai menemukan permainan terbaiknya. Setelah pada musim 2016-2017 berhasil mencetak sembilan gol, Sala mempertajam capaiannya pada musim berikutnya dengan empat belas gol.

    Musim ini Sala sempat mengalami kemandekan ketika Nantes ditangani oleh Miguel Cardoso. Dia hanya mencetak empat gol pada awal musim hingga September 2018.

    Baca: Sala dan Daftar Panjang Kecelakaan Pesawat Pesepak Bola

    Beruntung Nantes memecat Cardoso dan menunjuk Vahid Halilhodzic sebagai pelatih baru mereka pada akhir September. Di tangan Halilhozic, Sala kembali menunjukkan ketajamannya dan mencetak total delapan gol. Total pada setengah musim ini dia telah mencetak dua belas gol atau sama dengan capaiannya musim lalu.

    Sebagai pemain Sala mengidolakan penyerang Argentina di era 90-an, Gabriel Batistuta. Meskipun demikian, mantan rekan-rekannya di Niort sempat menyebut Sala sebagai duplikat Carlos Tevez.

    Hal itu tak lepas dari kegemaran dia bermain melebar namun memiliki insting pembunuh yang cukup tinggi. Dia juga merupakan pemain yang sering berkonfrontasi dengan lawannya di lapangan, mirip dengan Tevez.

    Mantan pelatih Sala di Niort, Pascal Gastieu, menilainya sebagai sosok yang tak pernah menyerah. Dia pun sempat memprediksi Sala akan berkembang pesat dari sisi teknik.

    "Dia adalah sosok yang baik dan ketika berada di lapangan dia tak pernah menyerah. Dia tahu dia masih bisa berkembang, terutama dari sisi teknik. Dia akan mencapai kematangan sedikit lebih lambat dari rata-rata pemain lainnya, tetapi kita lihat saja nanti," ujar Pascal.

    Ucapan Pascal itu terbukti. Pada musim 2016-2017 dan 2017-2018, dengan raihan 12 golnya dalam 16 laga, Sala menyamai raihan mega bintang Paris-Saint Germaine, Kylian Mbappe. Hal yang tak terbayangkan olehnya sama sekali.

    Ketajamannya bersama Nantes menarik minat Cardiff City dan klub Liga Inggris lainnya seperti Leicester City dan Everton. Manajer Cardiff, Neil Warnock, bahkan langsung memantau performa Sala pada 5 Desember lalu. Sala mencetak satu gol saat itu dan meyakinkan Warnock untuk merekrutnya.

    Klub yang saat ini tengah berjuang keluar dari zona degradasi Liga Inggris itu bahkan rela merogoh kocek dalam-dalam. Mereka menjadikan Sala sebagai pemain termahal yang pernah mereka beli dalam sejarah dengan mahar 17 juta euro. Sala pun mendapatkan kontrak tiga setengah tahun bersama Cardiff City.

    Namun sayangnya Cardiff City harus kehilangan Sala sebelum sekalipun dia membela mereka. Pesawat yang ditumpangi Sala dalam perjalanan dari Nantes ke Cardiff jatuh akibat cuaca buruk. Kemungkinan si pemain selamat pun dianggap sangat kecil.

    MARCA| DAILY MAIL| BBC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Operasi Ketupat 2021 Demi Menegakkan Larangan Mudik, Berlaku 6 Mei 2021

    Sekitar 166 ribu polisi diterjunkan dalam Operasi Ketupat 2021 untuk menegakkan larangan mudik. Mereka tersebar di lebih dari 300 titik.