Jose Mourinho, Ali, Foreman, dan Melawan Gravitasi

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi Jose Mourinho dalam pertandingan Liga Champion antara MU dan BSC Young Boys  di Old Trafford, 27 November 2018. Pemecatan Jose Mourinho ini juga terjadi setelah pengumuman hasil undian babak 16 besar Liga Champions pada Senin, 17 Desember 2018. REUTERS

    Ekspresi Jose Mourinho dalam pertandingan Liga Champion antara MU dan BSC Young Boys di Old Trafford, 27 November 2018. Pemecatan Jose Mourinho ini juga terjadi setelah pengumuman hasil undian babak 16 besar Liga Champions pada Senin, 17 Desember 2018. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Jose Mourinho seperti Muhammad Ali atau George Foreman yang ingin terus bertinju setelah melewati puncak karier. Sebab, secara usia, Mourinho mungkin berpikir bahwa usianya masih panjang dalam perjalanan karier kepelatihan. Mou kini baru 56 tahun.

    Di Liga Primer Inggris yang ditinggalkannya, karena dirinya dipecat Manchester United di tengah jalan, ada Roy Hodgson, mantan manajer tim nasional Inggris yang pada usia 71 tahun masih menangani Crystal Palace. Di bawahnya ada pelatih asal Cile, Manuel Pellegrini, yang menjadi manajer West Ham United pada usia 65 tahun.

    Secara kualitas dan catatan prestasi, bisa jadi Hodgson kalah cukup jauh dari Mourinho. Tapi, kemampuan Hodgson bertahan pada usia 71 tahun, setelah melatih 16 tim berbeda dari delapan negara, pasti menjadi salah satu sumber inspirasi Mourinho.

    Sir Alex Ferguson kalau tidak merasa kesehatannya  sudah tak bisa diremehkan –ia kemudian menjalani operasi jantung- mungkin juga akan menangani Manchester United sampai sekarang. Jangan lupa, Mourinho diam-diam sebenarnya belajar dari lawan yang pernah diejeknya, Arsene Wenger, 69, yang melatih Arsenal sampai puluhan tahun.

    Berita di sejumlah media asing siang ini, Rabu 27 Maret 2019, bahwa Mourinho bertekad melanjutkan karier kepelatihannya dengan mengincar Lyon atau Monaco di Liga 1 Prancis, adalah seperti Muhammad Ali dengan petualangan, antara lain, melawan pegulat Jepang, Antonio Inoki, pululan tahun lalu.

    Atau, seperi Foreman yang sudah gantung sarung tinju untuk menjadi pendeta dan kemudian kembali ke ring tinju pada 1980-an.

    Buat para petarung olahraga –baik atlet, pelatih, maupun manajernya- selalu ada keinginan berpetualang untuk menembus atau melewati batas kemampuan manusia pada umumnya.

    Setelah dipecat dari Old Trafford pada Desember 2018, minat Jose Mourinho untuk menjadi manajer belum pernah padam sambil menunggu awal musim 2019-2020. Negaranya,  Portugal, Inggris, Italia, dan Spanyol sudah dijelajahinya dengan mengoleksi trofi liga domestik, Liga Champions, dan Liga Europa.

    "Saya berniat dan berpikir meraih gelar saat melatih di klub yang baru nanti. Saya juga bertekad menyabet trofi Liga Champions," kata Jose Mourinho kepada stasiun televisi Prancis, Canal+.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kebijakan Bebas Visa bagi Indonesia di Brasil dan Empat Negara

    Sejumlah negara baru saja mengeluarkan kebijakan bebas visa bagi para pemegang paspor Indonesia, bukti bahwa paspor Indonesia semakin kuat di dunia.