Ajax Amsterdam: Siapa Erik ten Hag? Ini Profil Kepelatihannya

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Erik ten Hag, pelatih Ajax Amsterdam (football-oranje.com)

    Erik ten Hag, pelatih Ajax Amsterdam (football-oranje.com)

    TEMPO.CO, Jakarta - Erik ten Hag, 49 tahun, tak mewarisi DNA Ajax Amsterdam. Selama kariernya sebagai pemain bek tengah di Liga Belanda, pria kelahiran Haaksbergen ini tak sekalipun berkesempatan membela Ajax. Tapi, dinihadi tadi, Rabu 17 April 2019, dialah yang mengembalikan kehebatan Ajax puluhan tahun lalu.

    Ten Haag menjalani kariernya sebagai bek tengah di Twente pada tiga kesempatan yang berbeda, De Graafschap, RKC Waalwijk, dan Utrecth. Pria berkepala plontos ini baru berkesempatan bersentuhan dengan Ajax setelah menjadi pelatih, yaitu sejak 2017, setelah meninggalkan Utrecht, Bayern Munich II, dan Go Ahead Eagles.

    Di kandang Juventus dinihari tadi, Stadion Allianz, Turin, Ten Hag menyaksikan Ajax bangkit dari ketertinggalannya untuk mengalahkan raksasa Seri A Liga Italia itu berkat gol dari Donny van de Beek dan kapten tim yang baru berusia 19 tahun dan bermain di posisinya dulu, Matthijs de Ligt.

    Cristiano Ronaldo mencetak gol melalui tandukannya seperti pada pertemuan pertama di Johan Cruyff Arena, pada menit ke-28 dinihari tadi. Tapi, Van de Beek dan De Ligt memberikan pukukan mematikan buat Ronaldo dan kawan-kawan pada menit ke-35 dan 67.

    Ajax menang 2-1 di Turin setelah imbang melawan Juventus 1-1 di Amsterdam. Klub yang mewarisi kenangan kepada legenda Johan Cruyff itu pun melenggang ke semifinal dengan keunggulan agregat 3-2.

    “Saya sangat banggga kepada tim ini dan tentu saja kepada para staf saya,” kata Ten Hag di situs football oranje.com. “Tentu saja, ini semua bukan tentang saya, tapi tentang tim. Saya sekarang lupa menyampaikan kepada semua orang. Tapi, kami semua yang melajukan hal ini.”   

    Tentang analisis pertandingan, Ten Hag mengatakan, “Kami awalnya menemui kesulitan besar untuk mengatasi tekanan mereka pada awal pertandingan. Juventus berhasil menempatkan dirinya sangat oportunis dan melakukan tekanan tinggi.”

    “Itu adalah pertarungan sepak bola, tapi kami  terorganisir dengan baik dan sebenarnya tidak memberikan apapun. Di sisi lain, kami sulit keluar dari tekanan itu,” Ten Hag melanjutkan.

    “Ada hal-hal yang bisa membawa perbaikan dan itulah mengapa kami menerapkan sejumlah hal. Kami mulai bermain dengan dua gelandang, tepat di depan pertahanan dan kemudian kami lebih banyak mendapatkan bola. Lantas, kami mendapati Juventus berada di bawah tekanan. Mereka tak bisa keluar dan ada ruang buat kami,” Ten Hag menambahkan.

    Manchester City atau Tottenham Hotspur sekarang akan menunggu Ajax Amsterdam. Tapi, Ten Hag belum memikirkannya. “Kami sekarang menikmati dulu. Kami sudah menunjukkan bahwa kami bisa mengatai semua gaya permainan lawan yang berbeda-beda.”


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.