Revolusi Total Football: Dilarang Nonton Liverpool cs di Stadion!

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyerang Liverpool Mohamed Salah, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Manchester United. REUTERS/Phil Noble

    Penyerang Liverpool Mohamed Salah, melakukan selebrasi usai mencetak gol ke gawang Manchester United. REUTERS/Phil Noble

    TEMPO.CO, Jakarta - Lupakan pertandingan sepak bola dimeriahkan oleh ribuan suporter Liverpool dan tim-tim legendaris lainnya yang mengantre sejak beberapa jam sebelum pertandingan itu dimulai.

    Beberapa hari lalu, Gary Neville di BBC mengatakan terlalu dini untuk mempertimbangkan Liga Primer Inggris dan liga-liga di bawahnya musim ini dituntaskan tanpa penonton atau berlangsung secara tertutup.

    Tapi, hari ini di media yang sama, Wakil Ketua  Eksekutif Asosiasi Pemain Sepak Bola Profesional (PFA), Bobby Barners, mengatakan kepada The Athletic, para pemain akan menerima jika pertandingan Liga Primer Inggris dan divisi-divisi di bawahnya musim ini akan diselesaikan tanpa penonton.   

    “Di dunia yang ideal, kami akan bermain di depan orang banyak , tetapi saya pikir ini lebih seperti tidak ada alternatif,” kata Barnes kepada The Atletic seperti yang diberitakan BBC.

    “Para pemain realistis. Kami tidak berada di dunia yang ideal dan para pemain yang telah saya ajak untuk menerima itulah yang harus terjadi,” kata Barnes lagi.

    “Saya sudah berbicara dengan para pemain setiap hari dan percakapan didasarkan pada ketidakinginan bermain secara tertutup jika memungkinkan,”  Barnes melanjutkan.

    “Sepak bola adalah tentang penggemar. Tetapi, kenyataan bagi sebagian besar pemain, terutama di tingkat tertinggi, adalah pendapatan mereka didanai oleh uang televisi dan ada kontrak yang harus dipatuhi,” Barnes mengingatkan.

    Ada beberapa paragraf atau alinea lagi dari pernyataan Barnes. Tapi, yang di atas adalah layak disebut sebagai frasa-frasa kalimat yang kunci dan sakti.

    Dunia, termasuk sepak bola, sedang dalam kondisi tidak ideal, dan itu tak ada jaminan bisa berakhir cepat. Liga tanpa penonton di ribuan stadion di dunia mungkin tak hanya khusus musim kompetisi 2019-220 sekarang –jika mengacu pada standarisasi sebuah musim di Eropa dan di badan sepak bola dunia, FIFA-, tapi bisa juga musim berikutnya 2020-2021.  

    Dan, itu diperkirakan akan terjadi di semua kawasan Eropa, terutama liga-liga yang selama ini menjadi primadona: Liga Primer Inggris, La Liga Spanyol, Seri A Liga Italia, Bundesliga Jerman, dan Ligue 1 Prancis. Bahkan, hal itu bisa terjadi di Indonesia. Penyebabnya, kita semua tahu, virus corona.

    Jika berpikir bagaimana soal penonton dan suporter, dan mereka yang akan berparade di jalan-jalan protokol untuk menyambut kemenangan, jika diberlakukan pertandingan tertutup? Aparat keamanan mungkin tak perlu kerepotan.

    Sebab, bukankah, pandemi virus corona ini sudah menciptakan keharusan orang untuk berjarak dengan satu sama lain? Tak perlu gertakan aparat, virus itu terbukti sudah memaksa mengembalikan orang-orang ke kediaman masing-masing dan sudah dihubungkan oleh media televisi, sejak sangat lama.

    Kejadian seperti ketika ribuan suporter Paris Saint-Germain mendatangi kawasan luar Stadion Parc des Princes, Paris, ketika PSG memastikan di dalam stadion lolos ke 16 besar Liga Champions, mungkin masih lama akan terjadi lagi. Pandemi virus corona penyebabnya.  

    Paling tidak, dalam satu atau dua tahun –bahkan, mungkin lebih- perasaan trauma yang diakibatkan bukti dari dampak virus corona ini akan membuat kita melupakan sebuah pesta besar yang biasanya terjadi di perhelatan sepak bola ternama.

    Bisa jadi. Tak ada lagi orang-orang berbondong-bondong menyusuri jalan menuju stadion di Innsbruck, Austria, untuk menyaksikan salah pertandingan Euro 2008, saat Rusia ditangani Gus Hiddink, di sebuah musim panas yang masih terasa dingin.

    Atau, tak ada lagi sorak-sorai dan barisan penonton yang memenuhi jalan-jalan protol Warsawa, ibukota Polandia, ketika pujaan tuan rumah, Robert Lewandowski dan kawan-kawan, menghadapi Rusia di PGE Naroowy, dalam laga Euro 2012.

    Sebagaimana menjelang acara penutupan Olimpiade Musim Panas 1996 di Atlanta, Amerika Serikat, para peliput yang hadir sebelum ribuan penonton memasuki stadion, akan menyaksikan bagaimana begitu banyak awak televisi menyiapkan setting untuk laga Euro 2008 di Innsbruck dan Euro 2012 di Warsawa.  

    Sejumlah kamera, lampu-lampu penerang, da tata suara disiapkan secara canggih, persis seperti jika hendak mempersiapkan sebuah pentas teater atau musik. Juga lengkap dengan gladi bersih upacara pembukaannya.   

    Pada dasarnya peristiwa di Innsbruck 2008, Warsawa 2012, dan Atalanta 1996 adalah contoh bagaimana peristiwa olahraga dirancang sedemikian rupa untuk memanjakan pemirsa televisi di seluru dunia. Pada era sekarang malah lebih canggih lagi, soal revolusi media ini.

    Jadi setelah strategi total football yang dikembangkan Rinus Michels, Johan Cruyff, Johan Neeskens, dan kawan-lawan pada periode 1970-an didaulat menjadi taktik yang revolusioner dalam sejarah sepak bola modern –dan, kini tak bisa diulangi lagi-, pandemi virus corona ini menciptakan revolusi baru di sepak bola buat Liverpool cs: sepak bola tanpa penonton.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Akhir Cerita Cinta Glenn Fredly

    Glenn Fredly mengembuskan napas terakhirnya pada Rabu, 8 April 2020 di RS Setia Mitra, Jakarta. Glenn meninggalkan cerita cinta untuk dikenang.