Pemain Liga Inggris Tolak Pemotongan Gaji, PFA Jelaskan Alasannya

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Penyerang Leicester City Jamie Vardy, mencetak gol ke gawang Aston Villa melalui titik penalti dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion King Power, Leicester, 10 Maret 2020. Action Images via Reuters/Andrew Boyers

    Penyerang Leicester City Jamie Vardy, mencetak gol ke gawang Aston Villa melalui titik penalti dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion King Power, Leicester, 10 Maret 2020. Action Images via Reuters/Andrew Boyers

    TEMPO.CO, Jakarta - Penundaan kompetisi sejak 14 Maret lalu membuat perekonomian 20 klub peserta Liga Primer berantakan. Klub Liga Inggris berdalih perlu efisiensi untuk membuat roda bisnis tetap berjalan.

    Namun caranya dianggap sebagian orang kurang tepat. Sebut saja klub seperti Newcastle United, Tottenham Hotspur, dan Liverpool, yang memilih memotong gaji pegawai klub di luar urusan sepak bola sebesar 20 persen. Gaji jajaran direksi juga tak luput dari sasaran pemangkasan.

    Keputusan tersebut dianggap tidak adil. Alih-alih menyunat gaji pegawai biasa, lebih adil jika para pemain yang berpenghasilan hingga ratusan ribu pound sterling atau hampir Rp 2 miliar saban pekan yang jadi sasaran pemotongan.

    Otoritas Liga Primer dan perwakilan 20 klub lantas menggelar musyawarah pada Jumat pekan lalu. Dalam rapat tersebut, mereka menghitung kompetisi Liga Primer yang berpotensi merugi hingga 750 juta pound atau sekitar Rp 15 triliun.

    Dalam rapat tersebut, muncul wacana pemotongan gaji para pemain oleh klub sebesar 30 persen dalam waktu 12 bulan. Duit tersebut diklaim untuk membantu klub menjaga stabilitas keuangan, termasuk menggaji seluruh karyawan.

    Namun kabarnya klub tak akan seketika memotong gaji pemain. Mereka akan membuka komunikasi dengan para pemain lebih dulu. Sebab, jika asal memotong gaji, klub bisa dianggap melanggar kontrak dengan para pemain.

    Menteri Kesehatan Inggris Matt Hancock berbicara pada konferensi pers digital COVID-19 di 10 Downing Street di London, Inggris 2 April 2020. [Pippa Fowles / 10 Downing Street / Handout via REUTERS]

    Jika sudah begini, para pemain bisa memperkarakan masalah tersebut. Parahnya, mereka bisa berstatus bebas transfer jika klub melanggar kontrak. Kalau begini, ujung-ujungnya klub yang merugi. Walhasil, klub harus membuat kontrak anyar dengan pemain untuk urusan pemotongan 30 persen gaji selama 12 bulan tersebut.

    Sekretaris Negara untuk Kesehatan dan Perawatan Sosial Inggris, Matt Hancock, mendukung usul tersebut. Dia menganggap para pesepak bola profesional itu merupakan bagian dari masyarakat Inggris yang wajib memberikan sumbangan pada masa krisis seperti ini.

    "Mereka harus berperan dalam penanggulangan wabah saat ini. Sebagian dari gaji mereka sangat berarti," kata Hancock.

    Lewat Asosiasi Pemain Sepak Bola Inggris (PFA), para pemain Liga Primer menolak usul pemotongan gaji itu. Dalam siaran resminya, PFA sejatinya setuju jika para pemain Liga Primer ikut membantu penanganan wabah Covid-19.

    Namun bantuan tersebut harus bersifat sukarela atau bukan pemangkasan wajib sebesar 30 persen selama 12 bulan. Alasannya, para pemain sudah berkontribusi dalam potongan pajak rutin pada gaji mereka.

    "Jika ditotal, pemotongan gaji 30 persen selama 12 bulan akan terkumpul duit sekitar 500 juta pound (sekitar Rp 10 triliun). Itu sama saja Inggris akan kehilangan potensi pajak sebesar 200 juta pound (setara Rp 4 triliun) jika gaji itu dipotong," ujar perwakilan PFA.

    Asosiasi pemain pun menegaskan bahwa para atlet Liga Primer pasti akan memberikan bantuan secara pribadi. Bahkan, jika dikenakan secara sukarela, bisa jadi jumlah yang akan mereka sumbangkan lebih banyak dibanding sekadar 30 persen.

    "Lagi pula, jika diwajibkan (pemotongan 30 persen gaji), pemain dan klub harus melakukan negosiasi kontrak yang intinya akan memakan waktu lebih lama lagi," begitu pernyataan PFA.

    Selain itu, PFA menyebut sejumlah pemain tak rela jika gaji mereka dipotong demi membantu finansial klub. Sebab, para pemilik klub merupakan deretan orang terkaya di muka bumi. Jadi, akan tidak adil jika para pemain menyumbang uang untuk orang-orang terkaya di dunia.

    Karena itu, para pemain lebih setuju untuk berserikat menyalurkan bantuan dari kocek sendiri untuk membantu petugas kesehatan dan masyarakat miskin yang kesulitan memenuhi kebutuhan hidup.

    Reaksi pemain timnas Inggris, Danny Rose, pada akhir laga setelah kalah oleh Spanyol dalam laga UEFA Nations League di Stadion Wembley, London, Sabtu, 8 September 2018. REUTERS.

    Bek Newcastle United, Danny Rose, tak habis pikir dengan orang-orang yang memaksakan pemotongan gaji pemain Liga Primer. Menurut bek pinjaman dari Tottenham Hotspur itu, mereka sudah mencampuri urusan dapur pesepak bola Inggris. "Sungguh tak elok dan cenderung aneh mendengarnya," kata pemain berusia 29 tahun itu.

    Rose sebenarnya tak keberatan menyisihkan uangnya untuk membantu penanganan wabah corona. Tapi dengan catatan tidak ada paksaan dari klub dan pemerintah. "Itu uang kami. Kami yang berhak menggunakannya," kata dia.

    Sejauh ini, baru kubu manajemen Bournemouth yang mengusulkan pemotongan gaji kepada klub. Manajer tim utama Eddie Howe, Ketua Eksekutif Neill Blake, Direktur Teknik Richard Hughes, dan asisten manajer Jason Tidall sepakat menyumbangkan sebagian gaji mereka untuk membantu masalah keuangan klub.

    Howe cs berharap sebagian dari gaji mereka bisa membantu klub untuk memberikan upah penuh kepada staf dan karyawan. "Sepak bola bukan sekadar olahraga, tapi juga industri yang harus memikirkan banyak hal, termasuk keuangan," demikian bunyi pernyataan resmi Bournemouth.

    Peneyrang Juventus Cristiano Ronaldo, melakukan tendangan ke gawang Inter Milan dalam pertandingan Liga Italia di stadion Allianz, Turin, 9 Maret 2020. REUTERS/Massimo Pinca

    Menariknya, di kompetisi lain di Eropa, seperti Seri A Italia, La Liga Spanyol, dan Bundesliga Jerman, para pemain di sejumlah klub sepakat menerima pemotongan gaji untuk sementara waktu. Sebagai contoh, seluruh pemain dan pelatih Borussia Monchengladbach yang sukarela menawarkan pemotongan gaji mereka untuk membantu pembayaran upah karyawan klub.

    Tim juara bertahan Seri A Juventus juga memangkas sementara gaji para pemainnya. Bek senior Giorgio Chiellini jadi perwakilan pemain dalam negosiasi dengan perwakilan klub saat rapat tentang pemotongan gaji.

    Bahkan megabintang Juventus, Cristiano Ronaldo, setuju gaji tahunannya dipotong hingga 3,8 juta euro atau sekitar Rp 68 miliar demi menyehatkan keuangan klub. Adapun gaji Ronaldo di Juventus setiap tahun mencapai 51 juta euro atau sekitar Rp 588 miliar. Sebagai gantinya, para pemain Juventus diberi janji kompensasi bonus ketika situasi membaik.

    THE DAILY MAIL | GOAL | THE SUN | INDRA WIJAYA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.