Carlo Ancelotti: Zidane Mengubah Ide Saya tentang Sepak Bola

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Carlo Ancelotti. Instagram/@everton

    Carlo Ancelotti. Instagram/@everton

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelatih Italia, Carlo Ancelotti, mengungkapkan bahwa pengalamannya melatih Zinedine Zidane di Juventus telah mengubah idenya tentang cara bermain sepak bola. Pengalaman itulah yang kemudian membantunya saat menangani Real Madrid.

    Ancelotti menangani Bianconeri dari 1999 hingga 2001. Namun, saat itu, ia tak bisa memberikan trofi di luar Piala Intertoto walaupun memiliki pemain berbakat termasuk Zidane, Alessandro Del Piedo, Edgar Davids, dan Filippo Inzaghi.

    Namun, waktu bersama pemenang Ballon d'Or 1998 itu telah membantunya menemukan bentuk kepelatihan yang akhirnya mengantarkannya menjadi pelatih yang sangat sukses. "Zidane adalah pemain pertama yang memberi saya kemungkinan untuk mengubah sistem dan cara bermain yang berbeda," kata Ancelotti kepada Sky Sports.

    Pelatih yang kini menangani klub Liga Primer Inggris, Everton, menjelaskan, "Jadi, ketika saya memiliki Zidane, pada tahun pertama di Juventus, saya bermain dengan sistem 3-4-1-2, mmebuat Del Piero dan Inzaghi di depan dan Zidane sedikit di belakang. Tahun kedua, saya bermain dengan empat kembali tetapi menjaga dua striker di depan dan satu nomor 10, seperti Zidane."

    Pelatih baru Real Madrid, Carlo Ancelotti (kanan) tersenyum kepada mantan pesepakbola Zinedine Zidane dalam konferensi pers di stadion Santiago Bernabeu, Madrid, Spanyol, Rabu (26/6). REUTERS/Susana Vera

    Ia melanjutkan, "Zidane mengubah ide saya tentang sepak bola. Sebelumnya, saya sangat fokus Juventus pada 4-4-2 dan setelah dengan Zidane, saya berubah, saya ingin menempatkannya di posisi terbaiknya, untuk membuatnya lebih nyaman di lapangan."

    Lebih lanjut, Ancelotti menuturkan, "Pengalaman di Juventus menurut saya bagus karena saya mengerti betul bagaimana klub harus bekerja untuk manajer, jadi klub memberi saya banyak dukungan dalam hal ini. Tidak masalah jika pada akhirnya mereka memecat saya di tahun kedua, hingga hari terakhir di Juventus, saya mengerti bagaimana klub harus bekerja untuk manajer, untuk mendukung mereka, untuk membantu mereka di depan para pemain, untuk memberi manajer kekuatan yang dia butuhkan untuk mengelola para pemain."

    Zinedine Zidane kemudian menjadi asisten Ancelotti di Real Madrid, di mana mereka mengakhiri 12 tahun penantian Los Blancos untuk bisa menjadi juara Eropa seusai mengalahkan Atletico Madrid setelah perpanjangan waktu di final Liga Champions 2014.

    Pengalaman Ancelotti melatih di Turin, Italia, mengantarkannya pada kesuksesan di Santiago Bernabeu. Dari pengalaman itu, ia belajar cara terbaik memanfaatkan kemampuan Cristiano Ronaldo dan Sergio Ramos.

    "Tim memiliki beberapa masalah dalam beberapa tahun terakhir ketika saya tiba di sana," katanya. "Fakta bahwa mereka tidak mampu memenangkan Liga Champions selama 12 tahun adalah seperti sebuah obsesi bagi mereka karena Real Madrid terbiasa memenangkan banyak Liga Champions."

    Penyerang Real Madrid, Cristiano Ronaldo, melakukan selebrasi setelah mencetak gol ke gawang Atletico Madrid dalam pertandingan Liga Spanyol di Santiago Bernabeu, Madrid, 9 April 2018. Real Madrid bermain imbang 1-1 dengan Atletico Madrid. REUTERS/Susana Vera

    Ia menambahkan, "Anda tidak harus membangun tim di sekitar Cristiano Ronaldo dan seperti yang saya katakan dengan Zidane, Anda harus menempatkan mereka dengan cara yang lebih nyaman di lapangan. Saya tidak berpikir Anda harus membangun taktik ketat dengan pemain ini bertahan karena ada pemain yang lebih terlibat dalam fase menyerang dan ada pemain yang harus lebih terlibat dalam fase defensif."

    "Tentu saja, mereka harus bekerja bersama karena tim adalah bagian terpenting dari permainan, tetapi striker seperti Ronaldo yang mampu mencetak gol setiap pertandingan, Anda tidak harus memberikan terlalu banyak informasi secara defensif."

    "Ini adalah cara termudah untuk menjadi seorang manajer, untuk mengelola pemain yang fantastis karena mereka profesional, mereka serius, mereka memiliki kepribadian, mereka termotivasi, jadi itu adalah cara termudah," tuturnya.

    Ia melanjutkan, "Sergio Ramos juga memiliki kualitas yang fantastis. Saya pikir kualitas terbaik yang dia miliki bukan secara taktik, itu bukan secara teknis, itu karakter dan kepribadian yang dia miliki dan kemampuan yang dia miliki untuk memotivasi orang-orang di sekitarnya, seperti rekan satu timnya. Ramos selama periode itu penting untuk ini, ia selalu berada di puncak ketika permainan itu penting dan di saat-saat penting pertandingan."

    BEIN SPORTS


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.