Beban Everton di Liga Europa: Kedodoran Setelah Belanja Rp 2,3 T

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi pemain Everton, Wayne Rooney diakhir laga usai melawan Apollon Limassol dalam laga lanjutan Liga Eropa di Goodison Park, Liverpool, 28 September 2017. Everton ditahan Apollo Limassol 2-2. Reuters/Craig Brough

    Ekspresi pemain Everton, Wayne Rooney diakhir laga usai melawan Apollon Limassol dalam laga lanjutan Liga Eropa di Goodison Park, Liverpool, 28 September 2017. Everton ditahan Apollo Limassol 2-2. Reuters/Craig Brough

    TEMPO.CO, Jakarta - Everton terus membawa beban berat saat menjamu Lyon dalam lanjutan Liga Europa Jumat dinihari nanti. Tim asal Inggris ini terus kedodoran meski telah menghabiskan Rp 2,3 triliun untuk belanja pemain.

    Berada di posisi buncit klasemen sementara Grup E Liga Europa 2017/2018 tentu bukan tempat yang layak bagi Everton. Tapi, apa daya, kekalahan 0-3 dari Atalanta dalam laga pertama dan hasil imbang 2-2 melawan Apolon membuat Everton hanya mengoleksi satu angka.

    Sinar klub berjulukan The Toffees itu memang meredup di awal musim kompetisi ini. Selain terbenam dalam dua laga penyisihan Liga Europa, Everton merana dalam delapan pekan awal Liga Primer Inggris.

    Everton hanya mampu bertengger di posisi ke-16 klasemen sementara Liga Primer dengan delapan poin. Tim asuhan Ronald Koeman itu sudah empat kali menelan kekalahan, dua kali bermain imbang, dan baru dua kali menang.

    Sungguh ironis, memang. Sebab, pada jendela transfer lalu, Koeman membeli setidaknya delapan pemain dengan total biaya 131 juta pound sterling atau sekitar Rp 2,3 triliun. Awalnya, mayoritas media Inggris memprediksi, dengan belanja mewah itu, Everton bakal mengancam Big Six alias enam tim papan atas Liga Primer.

    Kenyataannya, di pentas Liga Primer, Everton hanya mampu bermain imbang 1-1 melawan tim promosi, Brighton, akhir pekan lalu. Hasil imbang itu pun diperoleh dengan susah payah lewat hadiah penalti yang dieksekusi Wayne Rooney pada menit-menit akhir laga.

    Besok dinihari, Everton harus melakoni laga ketiga Liga Europa menjamu Olympique Lyonnais di Stadion Goodison Park. Kalaupun terlalu berat bagi Everton untuk memperbaiki penampilan di Liga Primer, seharusnya tugas di Liga Europa lebih ringan.

    Jika Everton bisa menekuk Lyon di kandang sendiri, tentu tiga angka akan mendongkrak posisi Rooney dan kawan-kawan dari dasar klasemen. Lebih jauh lagi, Liga Europa seharusnya jadi tempat yang pas bagi Everton untuk membuktikan kualitas tim yang sesungguhnya.

    Tentu saja, mengalahkan Lyon bukanlah misi mudah. Laju Les Gones cukup mantap musim ini. Di kompetisi domestik, Ligue 1, mereka mampu duduk di posisi keenam klasemen sementara. Lyon mengoleksi 16 angka dari empat kemenangan, empat hasil imbang, dan satu kekalahan.

    Di Grup E Liga Europa pun posisi Lyon tak terlalu buruk. Mereka menempati peringkat kedua klasemen sementara dengan dua poin hasil dua kali imbang melawan Apolon dan Atalanta.

    Langkah Everton semakin berat lantaran cederanya tiga pemain pilar, yakni Seamus Coleman, Ramiro Funes Mori, dan James McCarthy. Apalagi ada rumor bahwa Aaron Lennon, Yannick Bolasie, dan Ross Barkley kurang bugar. Artinya, Koeman punya tugas berat merotasi pemain dan mengatur strategi baru.

    Meski begitu, Koeman tetap mematok target kemenangan dalam laga versus Lyon besok. "Kemenangan sangat penting bagi kami jika melihat kondisi di klasemen Grup E saat ini," kata pelatih berusia 54 tahun asal Belanda itu.

    Gelandang Everton, Davy Klaassen, pun berusaha optimistis untuk memenangi pertandingan. Menurut dia, Lyon adalah tim kuat dan punya pemain berkualitas, seperti Bertrand Traore dan Kenny Tete.

    "Penguasaan bola Traore bagus. Dia tentu tajam dalam menyerang, dan Tete bek tangguh. Saya tahu mereka karena saya dan mereka pernah satu tim di Belanda," kata pemain berusia 24 tahun asal Belanda itu.

    THE DAILYMAIL | LIVERPOOLEC


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.