Liga 1: Dicukur PSIS Semarang 3-0, Ini Kata Pelatih PSS Sleman

Reporter:
Editor:

Rina Widiastuti

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pelatih PSS Sleman Seto Nurdiyantoro. (liga-indonesia.id)

    Pelatih PSS Sleman Seto Nurdiyantoro. (liga-indonesia.id)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - PSS Sleman dicukur 3-0 oleh PSIS Semarang dalam lanjutan Liga 1 2019 di Stadion Maguwoharjo, Sabtu, 2 November 2019.

    Tiga gol PSIS dilesakkan Wallace Costa menit ke-21, Claudir Marini menit ke-38 dan Septian David Maulana menit ke-74.

    Meski kalah, PSS Sleman belum tergeser dari posisinya di urutan kelima klasemen sementara Liga 1 dengan 39 poin dari 26 laga yang dijalani.

    Kekalahan ini menjadi kekalahan kedua tim asuhan Seto Nurdiyantoro atas Laskar Mahesa Jenar. Di putaran pertama Liga 1 2019 Juli lalu, PSS kalah dengan skor 3-1.

    "Kami yang sebenarnya berharap bisa revans (balas dendam) ternyata tidak bisa, ya laga ini jadi pembelajaran penting," ujar Seto Nurdiyantoro seusai laga.

    Seto mengatakan gol pembuka yang diciptakan oleh pemain PSIS, Wallace Costa, pada menit 21, lewat tendangan penalti mempengaruhi permainan anak asuhnya selanjutnya. "Yang jelas yang menjadi awal (memburuknya permainan PSS) setelah kejadian pinalti sebenarnya. Saya tidak tahu pasti kejadian itu," ujar Seto.

    Menurut Seto, pertandingan di awal berjalan sangat menarik. Kedua tim bermain terbuka, saling berbalas serangan. Namun, kata dia, tim asuhannya masih perlu belajar banyak bagaimana mengantisipasi kecepatan dan membaca peluang serangan.

    Ia menilai beberapa pemainnya tampil dengan performa yang menurun pada laga ini. Ia menduga hal itu terjadi karena mepetnya waktu recovery sehingga pemainnya tidak bisa tampil maksimal.

    "Kami akan perbaiki soal fisik ini karena selanjutnya kami harus melawan Bali United (6 November) dan waktu recovery juga amat pendek," tuturnya.

    Setelah kekalahan telak lawan PSIS ini, Seto akan berbenah bagaimana mengkomunikasikan strategi yang cocok dengan pemain yang tengah dilanda kelelahan fisik.

    Mengenai kekalahan ini, Seto percaya ada faktir teknis dan nonteknis yang membuat tim asuhannya lebih sering menang di kaga tandang. Ia tak menampik pandangan yang beredar bahwa kuatnya dukungan suporter Sleman justru mungkin dianggap beban sehingga pemain malah tak bisa bermain lepas dan maksimal.

    "Tapi kalau dari analisa saya, secara teknis dalam laga tandang konsentrasi atau defend-nya tim tamu memang akan lebih bagus dan lebih fokus bertanding," ujarnya.

    Seto menambahkan, bagi PSS saat berlaga di kandang yang dibutuhkan hanya lebih sabar agar bisa melakukan variasi dalam membongkar pertahanan lawan untuk membuat peluang. "Untuk laga tandang PSS bisa bermain lebih bagus mungkin karena tim tuan rumah dan kami sama-sama main terbuka, jadi benar-benar maksimal," ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Setahun Pandemi Covid-19, Kelakar Luhut Binsar Pandjaitan hingga Mahfud Md

    Berikut rangkuman sejumlah pernyataan para pejabat perihal Covid-19. Publik menafsirkan deretan ucapan itu sebagai ungkapan yang menganggap enteng.