Sergio Ramos: Raungan dari Ernst Happel Stadium 12 Tahun Lalu

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Real Madrid, Sergio Ramos. AP

    Pemain Real Madrid, Sergio Ramos. AP

    TEMPO.CO, Jakarta - Sergio Ramos berulang tahun ke-34 dinihari tadi. Sosok dengan aksi yang berapi-api sebagaimana yang terekam 12 tahun lalu.

    Dari ruang bawah Stadion Ernst Happel, Wina, Austria, muncul sesosok tubuh kekar bertelanjang dada sambil berteriak. Itulah Sergio Ramos sambil membawa karton bergambar miniatur trofi juara Piala Eropa 2008 atau biasa disebut Euro 2008.

    Dengan wajah yang ceria, dada berbulu lebat, dan mata yang membelalak, ia menunjukkan miniatur trofi Euro 2008 kepada puluhan wartawan peliput yang memenuhi ruangan mixed zone Stadion Ernst Happel.

    Tempat pemakaman yang menampung jasad Ernst Happel, setelah wafat pada 14 November 1992 di Insbruck, juga berada di pinggiran Kota Wina, sebagaimana stadion yang mengabadikan namanya.

    Adalah Happel yang membawa Belanda menembus final Piala Dunia untuk kedua kali beruntun pada pergelaran di Argentina 1978. Dan, adalah ia juga yang mengubah posisi Ruud Krol dari pemain bek kanan Oranye pada final 1974 menjadi bek tengah pada final empat tahun kemudian.

    Kelak, dari pergelaran Euro 2008 di Enrst Happel Stadium itu, Sergio Ramos mengikuti jejak Ruud Krol untuk berubah posisi dari seorang bek kanan menjadi poros halang. Seorang jenderal pertahanan yang belum mau pensiun sampai hari ini.

    Hari itu, Minggu, 29 Juni 2008, Ramos baru saja bertanding membela Timnas  Spanyol mengalahkan Jerman 1-0 pada final Euro 2008 melalui sontekan penyerang Fernando Torres. 

    Saat itu, rambut lebih gondrong dari penampakannya sekarang, setelah baru saja berulang tahun yang ke-34 pada Minggu 30 Maret 2020.

    Dari Minggu 12 tahun lalu, yang menjadi tonggak dari awal rentetan prestasinya, sampai dinihari tadi, Sergio Ramos masih di jalan yang sama: seorang pemain bertahan yang lugas dan absolut. Dalam keadaan terpaksa, bola boleh lewat tapi tidak dengan lawan.

    Contoh terakhir yang tentu saja paling terkenal, tatkala Sergio Ramos sebagai bek tengah Real Madrid dituduh membuat penyerang Liverpool, Mohamed Salah, cedera pada final Liga Champions dua musim lalu.

    Dalam perebutan bola, Ramos menggaet tangan Salah dan menjatuhkan badannya ke tubuh pemain Liverpool sampai tumbang ke tanah sehingga bintang sepak bola asa Mesir itu cedera bahu dan tak bisa melanjutkan pertandingan. Bahkan, Salah kemudian harus absen membela negaranya di Piala Dunia 2018.  

    Pada babak fase grup Liga Champions musim lalu, pemain jangkar Madrid ini juga menerapkan prinsip bola boleh lawan tapi lawan jawan di Stadion Johan Cruyff ArenA, Amsterdam, Belanda, untuk menghambat laju seorang pemain Ajax. Ramos pun terkena kuning dan harus absen pada laga kedua di Santiago Bernabeu.

    Di luar sisi kontoversial dirinya yang suka ditonjolkan itu, Sergio Ramos adalah pemain yang mumpuni secara teknis. Final Euro 2008 yang berlangsung bersih itu salah satu buktinya.

    Di bawah asuhan Luis Aragoges, Ramos, Torres, dan kawan-kawan meletakkan pondasi buat tim Matador di Ernst Happel Stadium, Wina, sebelum mereka di bawah Vincente del Bosque memenangi Piala Dunia 2010 dan Euro 2012.

    Setelah mengawali karier di Sevilla, Sergio Ramos bersetia di Real Madrid dengan sudah tampil membela klub legendaris ini sampai 444 kali dan mencetak 64 gol.

    Hidup buat Sergio Ramos bagaikan pertandingan sepak bola, yaitu berusaha untuk terus waspada dan bertahan. Ia kombinasi antara bek tengah yang anggun secara teknis seperti Ruud Krol dan jejak bek kanan yang bisa sangat pragmatis, Cladio Gentile, di tim nasional Italia ketika memenangi Piala Dunia 1982.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    BPOM, Panduan Penerapan New Normal di Kantor dan Tempat Kerja

    BPOM melansir panduan penerapan new normal alias tatanan baru. Ada sembilan rekomendasi agar pandemi tak merebak di kantor dan tempat kerja.