New Normal Sepak Bola: Wajah Bursa Transfer Akan Sangat Berbeda

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Jadon Sancho. REUTERS

    Jadon Sancho. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Sepak bola Eropa mulai bangkit setelah sempat dihentikan akibat virus corona. Namun, ada banyak perbedaan dalam masa normal baru atau New Normal, termasuk soal bursa transfer pemain.

    Liga Jerman saat ini sudah bergulir lagi. Liga Inggris, Liga Italia, dan Liga Spayol dijadwalkan bergulir pada bulan depan. Tapi, klub-klub harus bersiap menanggung kerugian karena mereka harus menggelar laga kanang tanpa penonton. Artinya tak ada lagi pemasukan dari tiket.

    Hal itu kemudian diprediksi akan memukul keuangan klub. Pemasukan berkurang jauh, tapi mereka masih tetap harus membayar gaji pemain yang tinggi. Kini, semua klub berjuang mengencangkan ikat pinggang. Bila diterapkan di bursa transfer, ini bisa berarti tak akan ada lagi klub terkemuka yang berani mengeluarkan biaya sampai 100 juta euro untuk membeli pemain.

    Mantan pelatih Damien Comolli telah mengamati berbagai peristiwa setelah meninggalkan perannya di klub Turki Fenerbahce pada Januari lalu. Mantan direktur olahraga Liverpool dan Tottenham Hotspur mengatakan itu mengatakan kepada AFP bahwa dia memperkirakan penurunan biaya antara 30 dan 50 persen dibandingkan dengan biasanya, dan pengurangan 70-75 persen dalam hal aktivitas.

    Secara khusus, kehilangan pendapatan klub dari hasil pertandingan yang dimainkan tanpa penonton akan sangat berdampak pada anggaran. Ketika klub harus merekrut pemain, mereka yang bertanggung jawab atas perekrutan pemain di klub, juga tidak bisa melakukan pekerjaan mereka.

    Martyn Glover, kepala pencari bakat dan perekrutan di klub Liga Inggris, Southampton, sudah merasakan pengaruhnya. "Bagian terbesar dari pekerjaan saya adalah menindaklanjuti target untuk jendela transfer berikutnya," kata dia. Para pencari bakat biasanya menghabiskan banyak waktu mereka di jalan dan melakukan perjalanan jauh untuk menonton permainan calon pemain yang akan direkrut.

    "Saya biasanya berada di luar negeri setiap minggu di beberapa titik," kata Glover, yang sebelumnya bekerja di Everton. "Saya mungkin terbang ke Paris untuk menonton PSG dan hari berikutnya ke Jerman untuk menonton pemain lain. Dalam seminggu saya mungkin akan menyaksikan tiga atau empat pertandingan secara langsung."

    Robert McKenzie memiliki peran yang serupa di klub divisi kedua Belgia, Leuven, yang pada 2017 diambil alih oleh King Power, pemilik Leicester City asal Thailand. Biasanya dia akan menonton hingga 20 pertandingan dalam sebulan, mengamati pemain yang menjadi target.

    "Situasi saat ini jelas memiliki implikasi signifikan terhadap apa yang secara historis menjadi bagian terpenting dari proses: penilaian pemain dalam pertandingan langsung," katanya kepada AFP. "Saya sering berpikir pada diriku sendiri kapan akan saya benar-benar duduk di stadion sepak bola menonton pertandingan? Siapa tahu!"

    Namun, ia mengakui bahwa perintah penutupan akibat pandemi telah memberinya banyak waktu untuk mencari calon pemain dan mempertimbangkan beberapa pilihan.

    Sebaliknya, Newcastle United menjadi berita utama ketika kepala perekrutan mereka, Steve Nickson, terpaksa cuti bersama dengan seluruh departemen pencari bakat, menghentikan bagian fungsi penting dari klub.

    Lalu, bagaimana klub Liga Premier dapat merencanakan untuk musim panas tanpa mengetahui apakah mereka akan tetap menjadi klub papan atas musim depan, atau apakah musim ini bisa dimulai kembali, dengan semua konsekuensi biaya?

    "Ada banyak hal yang masih belum dapat dibuktikan," kata Glover. "Kami bukan klub yang mungkin menghabiskan 80 juta untuk seorang pemain. Saya yakin akan ada beberapa peluang yang muncul dari apa yang telah terjadi, baik di dalam maupun luar negeri, tetapi bagian tersulit adalah masalah keuangan." Glover mengakui bahwa cara pekerjaannya bisa berubah selamanya.

    Comolli membantu memperkenalkan penggunaan data dan analisis ke dalam sepak bola Inggris dan yakin bahwa pendekatan tersebut bisa diterapkan secara lebih luas.

    "Mungkin semakin banyak klub akan menggunakan data dan statistik alih-alih pencari bakat secara langsung dan mungkin klub juga akan mempelajari lebih banyak pemain itu sendiri, keluarga mereka, cara mereka hidup," kata dia.

    "Jika saya memiliki kesempatan untuk pergi dan menonton pemain secara langsung atau kesempatan untuk bertemu dengannya dan keluarganya, saya akan mengambil kesempatan untuk pergi dan bertemu dengannya."

    Dia percaya klub-klub yang sudah menekankan pada penilaian pemain melalui video dan data dapat mengatasi krisis tanpa merugikan tim. Bahkan klub dari peringkat yang lebih rendah bisa dapat muncul lebih kuat.

    Klub itu termasuk Leuven, meskipun mereka harus menunggu hasil play-off pada bulan Agustus untuk melihat di divisi mana mereka akan berada pada musim depan.

    Bagi klub papan bawah, kondisi krisis karena Covid-19 bisa berpotensi membawa berkah. "Saya pikir mungkin ada peluang bagi kami sebagai klub akibat dari situasi saat ini yang sebelumnya dianggap tidak mungkin," tegas McKenzie.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ekspor Benih Lobster, dari Susi Pudjiastuti hingga Edhy Prabowo

    Kronologi ekspor benih lobster dibuka kembali oleh Edhy Prabowo melalui peraturan menteri yang mencabut larangan yang dibuat Susi Pudjiastuti.