Menelusuri Awal Terjadinya Polemik Shin Tae-yong dengan PSSI

Reporter:
Editor:

Hari Prasetyo

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ratu Tisha berpose dengan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong. Ia menyampaikan bersyukur pernah mendapat kesempatan bekerja sebagai Sekjen PSSI dengan diiringi alunan musik. Instagram/@Ratu.tisha

    Ratu Tisha berpose dengan pelatih Timnas Indonesia, Shin Tae-yong. Ia menyampaikan bersyukur pernah mendapat kesempatan bekerja sebagai Sekjen PSSI dengan diiringi alunan musik. Instagram/@Ratu.tisha

    TEMPO.CO, Jakarta- Polemik antara pelatih tim nasional Shin Tae-yong dengan PSSI belum menemui titik terang. Kekisruhan bermula dari pernyataan pelatih dari Korea Selatan itu saat diwawancarai oleh media negaranya. Shin Tae-yong menangani tim negaranya di Piala Dunia 2018 menawarkan pemusatan latihan bagi tim Indonesia  dilakukan Gyeongju, Korea Selatan.

    "Awalnya saya berencana mau membawa tim nasional U-19 Indonesia ke Gyeongju, Korea Selatan. Namun, sebenarnya saya bersedia jika tim berlatih di mana pun," ujar Shin, seperti dikutip dari laman kantor berita Korea Selatan, Yonhap, Minggu, 21 Juni 2020.

    Selain usul berlatih di Korea Selatan, Shin Tae-yong mempertanyakan kondisi internal PSSI setelah Ratu Tisha mengundurkan diri sebagai sekretaris jenderal PSSI.

    Shin Tae-yong menyinggung PSSI yang sering berganti-ganti pengurus. Seperti Ratu Tisha yang tiba-tiba mundur pada April lalu. "PSSI sering berganti kepengurusan dan kebijakan. Sekretaris Jenderal, Ratu Tisha, yang punya kemampuan besar dan sangat disukai masyarakat, tiba-tiba berhenti pada April," kata Shin Tae-yong dikutip dari news-joins.

    Juru taktik berusia 51 tahun juga merasa kecewa terhadap keputusan PSSI menunjuk Indra Sjafri sebagai direktur teknik Timnas Indonesia. Padahal, saat Shin Tae-yong mengadakan pemusatan latihan (TC) di Thailand, Indra Sjafri yang saat itu berstatus sebagai asistennya melakukan kesalahan karena pulang tanpa izin. Sebenarnya, pelatih asal Korea Selatan itu sudah membuka pintu maaf, namun Indra Sjafri merasa tidak bersalah.

    "Keesokan harinya saya ingin memaafkannya jika dia mengakui kesalahannya. Akan tetapi, dia seolah-olah tidak memiliki salah apa-apa," ujar Shin.

    "Kemudian, Ketua Umum PSSI yang merupakan purnawirawan perwira tinggi Polisi meminta saya menghubunginya. Dua bulan kemudian, pelatih lokal tadi dikeluarkan dan ditunjuk menjadi Direktur Teknik," ucap Shin menambahkan.

    Karena hal itu, Shin Tae-yong meminta kepada PSSI supaya lebih fokus kepada perkembangan sepak bola Indonesia bukannya malah mementingkan masalah jabatan.

    Akibat pernyataaan yang dianggap menyerang internal PSSI. Beredar rumor keretakan hubungan kerja sama yang terjalin. Pengurus bergantian berkomentar untuk melakukan klarifikasi. Salah satunya yakni Direktur Teknik Indra Sjafri.

    Mantan pelatih Bali United ini mengaku heran mengapa Shin Tae Yong terus mempermasalahkan dirinya dan bahkan menyebutnya sebagai indisipliner. Indra membela diri bahwa kepulangan untuk menghadiri pernikahan anak rekannya, Rahmad Darmawan, atas seizin staf timnas yang lain. Namun memang tidak menyampaikan langsung ke Shin Tae-yong.

    “Saya meminta maaf langsung kepada Shin atas kejadian itu, yang diterjemahkan oleh Yoo Jae Hoon, mantan kiper Persipura yang menjadi salah satu ahli bahasanya,” kata Indra.

    Selain Indra Sjafri yang melakukan klarifikasi. Ketua Umum PSSI Mochamad Iriawan bahkan langsung membentuk Satuan Tugas Timnas untuk mengawasi kinerja Shin Tae-yong. Pria yang akrab disapa Iwan Bule itu menunjuk Syarif Bastaman sebagai ketua. Sebelumnya, Syarif merupakan Ketua Komite Pemilihan PSSI.

    Polemik antara Shin Tae-yong dengan PSSI pun ditanggapi berbeda kalangan sepak bola Tanah air. Pengamat sepak bola Indonesia Tommy Welly menilai pernyataan Indra Sjafri yang seolah menyudutkan Shin Tae-yong dianggap tidak elok dan tak mencerdaskan publik sepak bola Indonesia. "Dirtek PSSI bilang Shin Tae-yong tidak percaya diri. Nah ini menurut saya literasi atau narasi yang tidak mencerdaskan publik sepak bola," ujar Tommy Welly.

    Sedangkan, Koordinator Save Our Soccer, Akmal Marhali, mengatakan polemik antara PSSI dan pelatih tim nasional Indonesia, Shin Tae-yong, harus dilihat secara proporsional. Menurut Akmal, masyarakat melihat bahwa pelatih asal Korea Selatan itu telah mengikat kontrak selama empat tahun bersama timnas. "Artinya dengan segala risiko dan problematika yang muncul di tengah jalan seperti pandemi covid, eks pelatih timnas Korea Selatan itu harus siap," kata Akmal, Senin, 22 Juni 2020.

    Sebenarnya, keinginan Shin Tae-yong untuk mempersiapkan skuad Garuda Muda dengan berlatih di Korea Selatan mendapat dukungan dari pemerintah. Menteri Pemuda dan Olahraga Zainudin Amali memberikan kebebasan kepada federasi soal di mana timnas U-20 menggelar pemusatan latihan. Hanya saja yang patut diperhatikan yakni proposal anggaran yang diajukan harus melewati tahap peninjauan agar tidak bermasalah di kemudian hari.

    "Saya sudah diperintah Pak Presiden, mau latihan di mana saja ikuti, kita enggak ada keterbatasan. Bukan hanya boleh di dalam negeri, tidak," kata dia.

    "Komitmen pemerintah mau latihan di mana saja silakan, mau di negara mana silakan, negara yang biayai. Tapi ini menyangkut APBN, proposal yang diajukan harus kita review. Setiap satu rupiah harus dipertanggungjawabkan," kata dia menambahkan.

    Untuk menyelesaikan polemik berkembang, PSSI telah memanggil pulang Shin Tae-yong kembali ke Indonesia. Pelaksana Tugas Sekretaris Jenderal PSSI, Yunus Nusi, mengatakan surat kepada pelatih asal Korea itu telah dikirimkan.

    "PSSI sudah mengirim surat ke Shin Tae-yong agar STY datang ke Indonesia untuk menangani dua timnas (yakni)
    U-19 persiapan Piala AFC bulan Oktober 2020 di Uzbekistan dan timmas senior yang akan ikut lanjutan Pra-Piala Dunia yang juga bulan Oktober 2020," kata Yunus kepada Tempo, Selasa, 23 Juni 2020.

    Satuan Tugas Timnas diketuai oleh Syarif Bastaman akan  mengadakan rapat bersama mantan pelatih Timnas Korea Selatan itu. Rapat bersama Satgas bersama Shin Tae-yong diagendakan pada 29 Juni 2020.

    Selain diminta kembali mempersiapkan timnas, Yunus juga mengatakan akan meminta klarifikasi atas pernyataan pelatih tim nasional Indonesia Shin Tae-yong kepada salah satu media Korea Selatan saat ia kembali ke Tanah Air nanti.

    "Kami akan menunggu. Saat STY (Shin Tae-yong) datang (ke Indonesia), kami akan meminta statement. Apa benar yang dia sampaikan ke media Korea Selatan?" kata Yunus Nusi kepada media di Jakarta, Senin.

    Terlepas dari perbedaan pendapat yang membuat kabar soal keretakan hubungan PSSI dan Shin Tae-yong merebak di Tanah Air.
    Shin tidak mau memikirkan hal itu karena dirinya fokus untuk membawa tim nasional Indonesia berprestasi.

    "Media di lokal (Indonesia) melaporkan bahwa saya memiliki konflik dengan PSSI. Bagi saya itu tidak penting karena yang utama adalah rakyat Indonesia ingin melihat kemampuan tim nasionalnya meningkat dan meraih prestasi," kata Shin Tae-yong.

    IRSYAN HASYIM


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Ekspor Benih Lobster, dari Susi Pudjiastuti hingga Edhy Prabowo

    Kronologi ekspor benih lobster dibuka kembali oleh Edhy Prabowo melalui peraturan menteri yang mencabut larangan yang dibuat Susi Pudjiastuti.