Kebijakan PSSI Tak Jelas, Puluhan Wasit Jadi Korban  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO/Aditia Noviansyah

    TEMPO Interaktif, Bandung - Wasit Liga Primer Indonesia Fiator Ambarita menyatakan, rekrutmen 200 wasit untuk mengikuti dua gelombang kursus dan tes penyegaran wasit di markas Secapa TNI-AD, Kota Bandung, tanpa sistem yang jelas dan menyalahi aturan. Akibatnya, kata dia, banyak wasit bersertifikat nasional berusia di bawah 46 tahun terancam menganggur bahkan terpaksa berhenti sama sekali berkarier sebagai wasit.

    Fiator pun mempertanyakan rekrumen wasit PSSI untuk liga musim ini. Menurut pasal 27 Peraturan Organisasi tentang Wasit PSSI yang berlaku, kata dia, syarat wasit yang ditugaskan harus berumur di bawah 46 tahun.

    "Tapi nyatanya banyak wasit berpengalaman yang usianya belum 46 tahun tidak dipanggil PSSI sekarang untuk mengikuti tes penyegaran di Secapa,"ujar Fiator saat ditemui di Bandung, Ahad petang, 25 September 2011.

    Padahal, mereka berpengalaman menjadi wasit Divisi Utama, Liga Utama, Liga Super Indonesia, juga Liga Primer Indonesia. "Jumlahnya (yang tak dipanggil PSSI) mungkin sekitar 80-an sampai 100-an orang, termasuk saya dan Jimmy Napitupulu," kata Ketua Asosiasi Wasit Liga Primer Indonesia itu. "Padahal banyak juga wasit yang dipanggil ikut penyegaran justru latar belakang dan jam terbangnya sebagai wasit patut dipertanyakan."

    Fiator mencontohkan dirinya yang lahir pada 8 Oktober 1966 alias 45 tahun dan punya pengalaman cukup di Liga PSSI maupun Liga Primer. Sabtu kemarin, 24 September, ia sempat mendatangi langsung lokasi pemusatan kursus penyegaran di markas Secapa sambil menenteng berkas Peraturan tentang Wasit PSSI.

    "Di Secapa, saya tanyakan langsung kenapa saya tak dipanggil ikut penyegaran kepada Executive Commitee PSSI Toni Aprilani, dan anggota Komite Wasit Umuh Muhtar," tuturnya.

    Setelah melihat Peraturan Wasit yang Fiator tunjukkan, Toni dan Umuh lalu mengajaknya menemui Direktur Perwasitan PSSI Rafi Razak yang juga hadir di Secapa. Namun Rafi lalu menjelaskan, bahwa menurut peraturan baru PSSI, batas maksimal usia wasit yang ditugaskan adalah 45 tahun.

    "Tapi setelah peraturan baru yang ditunjukkan Rafi Razak dibaca bersama, ternyata isinya sama saja dengan berkas peraturan wasit yang saya bawa, bahwa usia maksimal wasit adalah 46 tahun," kata Ketua Bidang Wasit PSSI Jawa Barat itu.

    Tak menyerah, lanjut Fiator, Rafi Razak lalu menyodorkan alasan lain. "Dia (Rafi) bilang, kalau Anda (Fiator) sekarang menyusul dipanggil ikut penyegaran, nanti ada 120 orang wasit yang seperti Anda minta dipanggil juga. Padahal kami tidak punya lagi dana," katanya mengutip alasan Rafi Razak.

    Mendengar alasan tersebut, Fiator pun bengong. "Itu berarti hak saya menjadi wasit setahun lagi hilang. Berarti juga saya tak bisa lagi menjadi wasit PSSI selama sisa umur saya karena Oktober tahun depan saya 46 tahun," ujarnya.

    Terkait karirnya di lapangan hijau tersebut, Fiator mengaku kini dirinya sudah membulatkan tekad berhenti menjadi wasit. Namun, kata dia, masih ada puluhan wasit berusia 46 tahun ke bawah yang tak dipanggil PSSI namun masih berharap bisa mengadu nasib ikut tes penyegaran wasit PSSI musim ini.

    "Besok pagi (Senin) mereka, ada puluhan orang wasit dari berbagai pengurus daerah PSSI provinsi, akan berkumpul di gedung olahraga Pajajaran (Bandung) untuk mempertanyakan rekrumen wasit PSSI," kata Fiator.

    Lapangan Pajajaran Kota Bandung besok pagi juga digunakan sebagai lokasi tes fisik peserta kursus penyegaran wasit PSSI. Gelombang pertama kursus tersebut berlangsung pada 23-26 September dan gelombang kedua mulai 26-29 September.

    "Besok kami juga akan memulai pembentukan Asosiasi Wasit PSSI, supaya kelak tidak ada lagi wasit yang diabaikan PSSI," tandas Fiator.

    Erick P. Hardi


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Data yang Dikumpulkan Facebook Juga Melalui Instagram dan WhatsApp

    Meskipun sudah menjadi rahasia umum bahwa Facebook mengumpulkan data dari penggunanya, tidak banyak yang menyadari jenis data apa yang dikumpulkan.