Jantung Juventus Alex

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Juventus Alessandro Del Piero. REUTERS/Alessandro Garofalo.

    Pemain Juventus Alessandro Del Piero. REUTERS/Alessandro Garofalo.

    TEMPO.CO , Tak salah bila mendiang Presiden Juventus Gianni Agnelli menyamakan Alessandro Del Piero dengan seniman zaman Renaisans, Pinturicchio. Di senja kariernya, pada umur 37 tahun, kapten La Vecchia Signora--julukan Juventus-- itu tak kehilangan gaya permainan. Rabu lalu, di kandang sendiri, satu lagi gol indah lahir dari kakinya.

    Baru dimainkan oleh pelatih Antonio Conte pada menit ke-72, Del Piero hanya butuh waktu 10 menit untuk mencetak gol itu. Dari jarak sekitar 24 meter, tendangan bebas melengkungnya menembus jala Lazio. Juventus pun menang 2-1 dan berhak kembali ke posisi puncak klasemen, unggul satu poin dari AC Milan.

    “Ini takdir saya untuk berjalan bersama Juventus,” kata Del Piero seusai pertandingan. “Sekarang adalah periode ajaib bagi kami, periode yang membuat energi kami berlipat,” ujarnya soal persaingan mereka dengan AC Milan dalam sisa jadwal kompetisi musim ini.

    Yang tak boleh dilupakan, partai menjamu Lazio tersebut adalah laga ke-700 Del Piero dengan seragam tim Nyonya besar. Sebuah angka milestone yang kian meneguhkannya sebagai pemain Juventus dengan penampilan terbanyak. Dan gol itu adalah yang ke-288 untuk klub yang dia bela sejak 1993 tersebut, juga memperpanjang rekornya.

    Di zaman sepak bola industri semacam ini, fenomena Del Piero terbilang langka. Dia mampu bertahan di satu klub selama hampir dua dekade. Bandingkan, misalnya, penyerang asal Swedia, Zlatan Ibrahimovic, berganti lima tim dalam separuh dasawarsa terakhir.

    Loyalitas semacam ini mudah ditemui pada dekade 1950-an sampai 1980-an. Pele tak memiliki klub pada kurun 1956-1974 selain Santos. Kiper hebat Jerman, Sepp Maier, juga bertahan bersama Bayern Muenchen selama 17 tahun pada 1960-an sampai awal 1970-an.

    Namun bukan berarti para mantan bintang itu tanpa godaan. “Real Madrid menginginkan saya, Manchester United dan Juventus juga,” kata Pele, pahlawan Brasil yang telah tiga kali meraih Piala Dunia. “Juventus bahkan hampir mencapai kesepakatan dengan Santos soal saya. Saya sempat terpikir untuk bermain di Eropa, tapi akhirnya saya memutuskan untuk tetap bersama Santos, klub yang tertanam di hati saya terdalam.”

    Alex--panggilan Del Piero--mencintai Juventus seperti Pele kepada Santos. Beberapa waktu lalu, mantan agen Del Piero, Claudio Paqualin, mengungkapkan bahwa si pemain pernah mendapat tawaran dari MU dan Barcelona, dua klub besar Eropa yang diinginkan setiap pemain. “Pada masa jayanya, dia menolak tawaran MU dan Barcelona,” kata Paqualin. “Dia mencintai Juventus. Del Piero adalah Juventus.”

    Meski bukan asli Juventus, Alex bergabung dengan klub dari Turin itu saat masih berusia 19 tahun, pada 1993. Gol pertamanya tercipta ke gawang Reggina ketika turun untuk kedua kali sebagai pemain pengganti. Saat diturunkan sebagai starter untuk pertama kali, hat-trick langsung lahir dari kakinya. Itu terjadi ke gawang Parma.

    Bersama Juventus, Del Piero merengkuh lima kali gelar Seri A, Liga Champions 1995/1996, Piala Toyota 1996, juga menjadi top scorer Liga Champions 1997/1998 dengan 10 gol. Bersama Juventus pulalah Del Piero bermain di Seri B pada 2006/2007 karena klub itu dihukum akibat skandal pengaturan skor, calciopoli. Alex tetap setia meski beberapa bintang lain, termasuk Fabio Cannavaro dan Ibrahimovic, memilih hengkang karena tak mau bermain di divisi bawah.

    Pada 2008, bapak tiga anak ini mengungkapkan niatnya untuk pensiun sebagai pemain Juventus pada usia 40 tahun. Itu berarti tiga musim lagi.

    Niat itu kemungkinan besar tak kesampaian. November tahun lalu, Presiden Juventus Andrea Agnelli--keponakan Gianni Agnelli--mengatakan kepada publik bahwa musim ini adalah musim terakhir bagi sang kapten tim.

    “Ikatan yang menghubungkan antara Juventus lama dan Juventus baru adalah kapten kami, Alessandro Del Piero,” kata sang presiden yang usianya setahun lebih muda daripada Del Piero itu. “Dia menjadi penghubung antara Stadion Comunale, Stadion Delle Alpi, dan Stadion Juventus, yang kami tempati sekarang. Dia ingin bersama kami untuk setahun lagi, tapi ini musim terakhir baginya mengenakan seragam hitam-putih.”

    Usia dan masa pengabdiannya dianggap telah cukup. Sialnya, kebijakan pelatih Conte, 42 tahun, juga condong ke Andrea. Dulu Conte adalah rekan setim Del Piero. Mereka pernah berbagi ban kapten. Lima kali scudetto Del Piero diraih saat Conte masih bermain. Sekarang pelatih ini lebih banyak membangkucadangankan dia.

    Conte sendiri sebenarnya mengakui peran vital Del Piero. “Saya turunkan dia secara penuh atau cuma beberapa menit. Alex selalu memberi pengaruh positif dan perbedaan bagi tim,” katanya. Satu gol Del Piero ke gawang AC Milan mengantar klubnya ke final Coppa Italia, dan satu gol lagi menghambat laju Inter Milan di Seri A.

    Masih ada waktu bagi Andrea dan jajarannya untuk menarik kembali keputusan mereka. Suporter tentu lebih senang bila sang idola dipertahankan. Mantan agen Del Piero memberi masukan, “Saya berharap dia bermain di Juventus untuk satu musim lagi dan setelah itu diserahi tanggung jawab sebagai direktur olahraga. Juventus melakukan kesalahan besar bila tak mempertahankannya.”

    BERBAGAI SUMBER | ANDY MARHAENDRA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Jangan Unggah Sertifikat Vaksinasi Covid-19 ke Media Sosial

    Menkominfo Johnny G. Plate menjelaskan sejumlah bahaya bila penerima vaksin Sinovac mengunggah atau membagikan foto sertifikat vaksinasi Covid-19.