Setitik Noda di Tengah Sukses Swansea

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Nathan Dyer (kiri) berusaha mengambil bola dari De Guzman yang akan menendang penalti dalam final Piala Liga Inggris melawan Bradford (24/2). Reuters.

    Nathan Dyer (kiri) berusaha mengambil bola dari De Guzman yang akan menendang penalti dalam final Piala Liga Inggris melawan Bradford (24/2). Reuters.

    TEMPO.CO, London - Swansea City menjuarai Piala Liga setelah di partai puncak mengalahkan Bradford 5-0 di Stadion Wembley, Minggu lalu, 24 Februari 2013. Namun, keberhasilan tim berjulukan The Swans itu diwarnai sedikit noda hitam.

    Ketika laga memasuki menit ke-58, Swansea mendapatkan hadiah penalti setelah De Guzman dijatuhkan kiper Bradford, Matt Duke, di area terlarang. Wasit Kevin Friend pun mengganjar Duke dengan kartu merah. Saat hendak melakukan eksekusi penalti, De Guzman dihalangi Nathan Dyer.

    Dyer berusaha merebut bola dari tangan De Guzman. Dyer melakukan hal itu karena dia memiliki peluang untuk mencetak tiga gol. Namun, De Guzman tak menghiraukan Dyer. Keduanya lalu beradu mulut. Michu, Pablo Hernandez, dan Ashley Williams langsung mencoba menenangkan keduanya.

    Setelah menerima masukan dari rekan setimnya, Dyer akhirnya mengalah. Namun wajahnya masih menunjukkan kekesalan. “Saya jelas ingin menciptakan hattrick lewat eksekusi penalti,” tutur Dyer. “Saya pikir harus mendapatkan bola, tapi tidak diberikan, dan saya melepaskannya.”

    De Guzman lalu menaruh si kulit bundar di titik putih. Dengan sangat tenang, De Guzman melepaskan bola ke sisi kanan gawang sehingga tak mampu dihalau kiper. Itu adalah gol kedua De Guzman. Di pengujung pertandingan, giliran Michu mencantumkan namanya di papan skor.

    Setelah peluit panjang dibunyikan, para pemain Swansea saling berpelukan. Dyer dan Guzman melupakan insiden di antara keduanya dan larut dalam euforia. “Memenangkan piala ini adalah pencapaian besar bagi kita,” ujar Dyer, yang dinobatkan sebagai pemain terbaik. “Ini menjadi hari yang luar biasa.”

    Selepas penyerahan trofi, manajer Swansea, Michael Laudrup, mengaku terkejut dengan pertengkaran yang terjadi di antara De Guzman dan Dyer. Ia pun mengakui insiden itu terjadi karena kesalahannya. “Tidak ada yang ditunjuk sebagai penendang penalti,” ucapnya. “Saya lupa.”

    Laudrup tak menunjuk seorang algojo karena ia mengira timnya tak akan mendapatkan hadiah penalti. “Ini adalah pertandingan ke-36 kami dan itu adalah penalti pertama kami,” ujar bekas pemain Real Madrid itu. “Saya pikir kami akan melalui seluruh musim ini tanpa penalti satu pun.”

    Untuk ke depannya, Laudrup tampaknya harus menentukan penendang penalti agar insiden memalukan seperti ini tak kembali terjadi. Tapi, yang terpenting adalah Swansea harus menyiapkan diri lebih baik lagi untuk musim mendatang. Soalnya, mereka akan beraksi di kompetisi Eropa, Liga Europa.

    SKY SPORTS | SINGGIH SOARES TONCE

    Baca Juga:
    Din Syamsuddin: Anas Tak Mau Jadi Korban Sendiri

    Selain Anas, KPK Mulai Bidik Nama Lain

    Soal Kredit Bank Jabar, Aher: Gua Bisa Lawan

    Bupati Aceng Bantah Menikahi Pengacaranya


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    4 Fakta Kasus Suap Pajak, KPK Bidik Pejabat Dirjen Pajak dan Konsultan

    KPK menetapkan pejabat Direktorat Jenderal atau Dirjen Pajak Kementerian Keuangan sebagai tersangka dalam kasus suap pajak. Konsultan juga dibidik.