Chelsea 3 Kali Gagal Menang, Masih Dibebani 4 Masalah Serius Ini

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi pemain Chelsea Christian Pulisic dan rekan setimnya usai pemain Leicester City mencetak gol dalam pertandingan Liga Inggris di Stamford Bridge, London, 18 Agustus 2019. Chelsea hanya mampu bermain imbang dengan Leicester City 1-1.  Action Images via Reuters/John Sibley

    Ekspresi pemain Chelsea Christian Pulisic dan rekan setimnya usai pemain Leicester City mencetak gol dalam pertandingan Liga Inggris di Stamford Bridge, London, 18 Agustus 2019. Chelsea hanya mampu bermain imbang dengan Leicester City 1-1. Action Images via Reuters/John Sibley

    TEMPO.CO, JakartaChelsea gagal menang untuk ketiga kalinya secara beruntun. Tim asuhan Frank Lampard itu hanya mampu bermain imbang 1-1 dengan Leicester City dalam laga pekan kedua Liga Inggris di Stamford Bridge, Ahad, 18 Agustus 2019.

    Hasil seri ini memastikan The Blues belum bisa meraih poin penuh dalam tiga laga yang dijalaninya di berbagai kompetisi. Mereka ditekuk Manchester United 4-0 dalam laga perdana Liga Inggris. Kemudian pada Piala Super Eropa mereka sempat menahan Liverpool 2-2, tapi akhirnya kalah adu penalti 5-4.

    Apa yang salah dengan Chelsea? Sejumlah masalah bisa disebut di sini, yang disarikan dari pernyataan Frank Lampard dan analisis Ian Wright. Seperti di bawah ini:

    1. Konsistensi selama 90 menit

    Problem Chelsea dalam laga melawan Leicester adalah konsistensi yang tak terjaga. Lampard menyebut timnya memulai dengan sangat bagus, tapi membiarkan lawan kembali ke permainannya. "Itu adalah awal yang bagus, fantastis, dan kami bisa meraih dua atau tiga gol," kata dia. "Kami cepat, cerah, dan bertenaga. Namun kemudian kami membiarkan Leicester kembali ke permainan." Lampard menyebut timnya kehilangan kepribadian atau ciri khas permainan seperti yang ditunjukkan saat melawan Liverpool di ajang Piala Super.

    2. Lemah dalam menghadapi serangan balik

    Lampard menyebut di babak kedua timnya terlalu memberi ruang bagi lawan untuk melakukan serangan balik. "Anda bisa menyerang, tapi harus pada posisi tak membiarkan lawan melakukan serangan balik. Saya tak di sini untuk memainkan sepak bola menyerang tapi kemudian kebobolan dari serangan balik. Kami harus bekerja dan memperbaiki itu di lapangan."

    3. Masih lemah dalam menghadapi bola mati

    Gol Leicester, yang dicetak Wilfred Ndidi, tercipta dari sundulan setelah mendapat umpan dari tendangan sudut. Ian Wright, mantan pemain yang kini menjadi komentator, mengaku merasa aneh melihat Lampard menerapkan taktik penjagaan zona (zonal marking) ketimbang penjagaan orang (man to man marking) untuk menghadapi tendangan sudut lawan. Gaya penjagaan seperti itu dinilai gagal dan membuat Ndidi leluasa mencetak gol.

    4. Soal pilihan pemain dan waktu pergantian

    Lampard dikritik karena memainkan para pemain muda saat timnya dibantai MU 4-0. Dalam laga kali ini, mantan gelandang itu memilih menurunkan Olivier Giroud sebagai starter Chelsea, ketimbang Tammy Abraham. Namun, meski pilihan itu dinilai tepat, Wright masih mengkritik Lampard soal waktu pergantian Giroud yang dilakukan 20 menit sebelum bubar. "Saya terkejut melihat Olivier Giroud diganti," katanya. Menurutnya, Giroud harus bermain lebih lama karena saat itu tampak terhubung baik dengan Willian.

    METRO | MIRROR


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Menunggu Dobrakan Ahok di Pertamina

    Basuki Tjahaja Purnama akan menempati posisi strategis di Pertamina. Ahok diperkirakan akan menghadapi banyak masalah yang di BUMN itu.