Gerrard Heran dengan Sikap Roberto Mancini

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Steven Gerrard. AP/Tim Hales

    Steven Gerrard. AP/Tim Hales

    TEMPO.CO, Manchester - Kapten Liverpool, Steven Gerrard, tidak habis pikir dengan sikap Roberto Mancini. Menurut Gerrard, pelatih Manchester City itu dinilainya sosok yang tidak konsinsten.

    Pekan lalu, kala City dikalahkan 2-3 oleh Manchester Unied di ajang Piala FA, Mancini memprotes sikap Wayne Rooney. Pelatih asal Italia itu menilai Rooney telah melakukan tindakan provokasi terhadap wasit Chris Foy.

    Tindakannya itu menyebabkan Vincet Kompany diganjar kartu merah karena mengganjal Luis Nani dengan dua kaki di menit ke-12. Namun hanya berselang empat hari dari laga tersebut Roberto berubah 360 derajat.

    Pada ajang semifinal Piala Carling antara City kontra Liverpool, Kamis dini hari 12 Januari 2012, Mancio–sapaan akrab Mancini–memprotes kepemimpinan wasit Lee Mason. Ia berang karena wasit tidak memberikan kartu merah kepada Glen Johnson.

    Mancini berpendapat ganjalan dua kaki yang dilakukan Glen terhadap Joleon Lescott berbahaya. Ia pun langsung mengacungkan dua jari tangannya kepada wasit bahwa hal itu layak dihadiahi kartu.

    “Saya terkejut dengan sikap Mancini,” kata Gerrard. “Pada pekan lalu ia menyalahkan Rooney yang dinilainya sebagai penyebab terusirnya Kompany. Sekarang dia melakukan hal serupa yang seperti Rooney lakukan.”

    Namun, bagi Gerrad, hal tersebut tidak akan berpengaruh baginya. Ia merasa tekel yang dilakukan rekan setimnya itu bersih. “Jadi tidak harus diberikan kartu merah,” ucapnya.

    Laga itu sendiri dimenangi Liverpool dengan skor tipis 0-1. Gol kemenangan The Reds dicetak Gerrard di menit ke-13 melalui titik putih. Pada pertemuan kedua, The Reds akan menjamu The Citizens di Anfield pada 25 Januari nanti.

    THE SUN | SINGGIH SOARES


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.