Liga 1: Bertemu Persela, Cedera Hantui Pemain PSS Sleman

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gelandang PSS Sleman, Brian Ferreira. (liga-indonesia.id)

    Gelandang PSS Sleman, Brian Ferreira. (liga-indonesia.id)

    TEMPO.CO, Yogyakarta - Cedera menghampiri skuad PSS Sleman sehari jelang pertandingan melawan Persela Lamongan di Liga 1 Indonesia. Pelatih PSS Seto Nurdiyantoro tengah menyiapkan strategi yang pas untuk menahan laju Persela pada laga Kamis, 15 Agustus 2019 di Stadion Maguwoharjo, Sleman.

    Seto menyatakan usai menjalani tiga laga tandang yang padat, beberapa pemainnya kemungkinan besar tak akan tampil karena cedera. Mereka adalah Bagus Nirwanto, Purwaka Yudi, Arie Sandi, dan Rudi Widodo.

    Sementara dua pemainnya yang berpeluang untuk dimainkan ialah Brian Ferreira dan Guilherme Batata. Keduanya, menurut Seto, hanya mengalami cedera ringan. Sedangkan Dave Mustaine dipastikan absen karena terkena sanksi akumulasi kartu. 

    Seto berharap federasi bisa mengevaluasi padatnya jadwal Liga 1 Indonesia. "Kami harap federasi memahami soal jadwal liga yang mepet. Karena beresiko buat cedera pemain," kata dia, Rabu, 14 Agustus 2019. 

    PSS Sleman tengah mempertahankan posisinya di klasemen sementara Liga 1 Indonesia. Bermain di luar kandang sebanyak tiga laga, PSS berhasil merebut dua kemenangan dan satu seri. Hasilnya, PSS duduk di peringkat empat dengan mengantongi 20 poin.  

    Menjamu Persela, tim berjuluk Laskar Sembada punya peluang besar menjaga tren positif walau beberapa pemainnya diragukan tampil. Namun Seto mengingatkan para pemain untuk waspada.

    Menurut dia, sejak dilatih Nil Maizar, Persela mulai menunjukkan konsistensi permainan walau di klasemen Liga 1 berada di peringkat ke-15. “Lamongan tim bagus terbukti lima pertandingan belum pernah kalah, saya banyak belajar dari coach Nil," ujarnya.

    PRIBADI WICAKSONO


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Hal Penting di Rengasdengklok Sebelum Proklamasi 17 Agustus 1945

    Satu hari sebelum teks Proklamasi dibacakan, ada peristiwa penting dalam sejarah Indonesia. Kejadian itu dikenal sebagai Peristiwa Rengasdengklok.