Liga 2: Persiraja Berbekal Tayangan Televisi Hadapi Persik

Reporter:
Editor:

Aditya Budiman

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Persiraja Banda Aceh, Defri Riski, merayakan gol yang diciptakannya dalam laga melawan PSMS Medan di Stadion H. Dimurthala, Banda Aceh pada Kamis, 15 Agustus 2019. TEMPO / IIL ASKAR MONDZA

    Pemain Persiraja Banda Aceh, Defri Riski, merayakan gol yang diciptakannya dalam laga melawan PSMS Medan di Stadion H. Dimurthala, Banda Aceh pada Kamis, 15 Agustus 2019. TEMPO / IIL ASKAR MONDZA

    TEMPO.CO, Jakarta - Pelatih Persiraja Banda Aceh, Hendri Susilo, mengatakan belum mengenal permainan Persik Kediri. Sebab, kedua kesebelasan belum pernah bertemu sepanjang kompetisi Liga 2 Indonesia musim 2019 bergulir.

    Persiraja akan menghadapi Persik di babak semifinal Liga 2. Laga kedua tim digelar di Stadion Kapten I Wayan Dipta, Gianyar, Bali pada Jumat, 22 November 2019. "Kami sejak di penyisihan beda grup jadi kami agak kesulitan juga," kata Hendri.

    Di penyisihan grup, Persiraja berada di Grup Barat. Sementara Persik bergabung di Grup Timur. Kedua tim juga berada di grup yang berbeda saat melaju ke babak 8 besar. Persiraja di Grup A dan Persik di grup B.

    Meskipun belum pernah saling berhadapan di musim ini, Hendri tidak tinggal diam. Ia berupaya keras mencari informasi soal Persik. "Jadi, selama ini saya lihat mereka bermain dari televisi," kata mantan pelatih PS Sumbawa Barat tersebut.

    Dari pengamatan Hendri, Persik merupakan tim kuat. Klub berjuluk Macan Putih itu mempunyai kombinasi pemain muda dan senior yang berimbang. Oleh sebab itu, Persiraja harus ekstra waspada semua potensi yang dimiliki Persik.

    "Persik pada awal kompetisi tidak diunggulkan sama sekali, tapi melejit sampai semifinal. Artinya tim Kediri ini luar biasa bagus. Jadi kami harus lebih hati-hati," tutur pelatih berusia 53 tahun ini.

    LIGA INDONESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Kronologi KLB Partai Demokrat, dari Gerakan Politis hingga Laporan AHY

    Deli Serdang, KLB Partai Demokrat menetapkan Moeldoko sebagai ketua umum partai. Di Jakarta, AHY melapor ke Kemenhumkam. Dualisme partai terjadi.