Kaleidoskop 2020: 4 Cerita Muram Liga 1 Indonesia di Tengah Pandemi Covid-19

Reporter:
Editor:

Nurdin Saleh

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Gelandang serang Persebaya Makan Konate mendapat kawalan dari pemain Persipura Jayapura pada laga pekan ketiga Shopee Liga 1 2020. Persebaya untuk sementara tertinggal 1-2 dari Persipura di Stadion Gelora Bung Tomo, Jumat malam, 13 Maret 2020. (Persebaya)

    Gelandang serang Persebaya Makan Konate mendapat kawalan dari pemain Persipura Jayapura pada laga pekan ketiga Shopee Liga 1 2020. Persebaya untuk sementara tertinggal 1-2 dari Persipura di Stadion Gelora Bung Tomo, Jumat malam, 13 Maret 2020. (Persebaya)

     

    Polemik nasib kompetisi

    Setelah PSSI mengadakan pertemuan dengan klub-klub Liga 1 dan Liga 2, Asosiasi Pesepakbola Profesional Indonesia, serta Asosiasi Pelatih Sepakbola Seluruh Indonesia pada 2 Juni untuk menentukan nasib kompetisi.

    Beberapa pihak sepakat agar kompetisi tetap dilanjutkan setidaknya pada tahun ini. Sementara pihak lain seperti Persebaya Surabaya, Barito Putera, Persik Kediri, Persita Tangerang, dan Persipura Jayapura sempat menolak kompetisi digelar.

    Lima tim tersebut beralasan bahwa sangat riskan menggelar kompetisi di tengah pandemi yang belum terkendali. Meski tanpa penonton, tapi tak ada yang menjamin bahwa pendukung tak datang ke stadion.

    PSSI dan PT LIB kemudian meyakinkan bahwa semuanya telah terencana dengan matang. PSSI beralasan kelanjutan liga demi timnas Indonesia yang akan berlaga di Piala Dunia U-20.

    Sejumlah klub yang menolak kemudian luluh dan menyatakan ikut dalam kompetisi, tapi Persebaya "keukeuh" menolak. Meski begitu, PSSI tetap pada pendiriannya menggelar kompetisi dan mengeluarkan surat keputusan bahwa liga dijadwalkan akan kembali digelar pada 1 Oktober.

    Seluruh jadwal pertandingan telah disusun dan diberikan kepada masing-masing kontestan liga. Kompetisi pun hanya dipusatkan di Pulau Jawa yakni di sekitar Yogyakarta. Hal ini diyakini bakal meminimalisir dari terpaparnya virus mematikan tersebut.

    Selain itu, tim tidak boleh menggunakan jalur udara, semuanya harus memakai jalur darat. PSSI dan PT LIB berjanji akan mengakomodir setiap kebutuhan transportasi tersebut.

    Akan tetapi tiga hari jelang bergulirnya liga, kompetisi kembali ditangguhkan. Alasannya sangat bodoh yakni tak mendapat perizinan dari pihak kepolisian. Padahal syarat-syarat mendasar ini seharusnya wajib dikantongi sejak jauh-jauh hari.

    Karena tak mendapat izin penyelenggaraan dari pihak kepolisian. Federasi dan operator melobi agar akhir tahun bisa menggelar kompetisi. Akan tetapi, polisi lebih membela Pilkada ketimbang olahraga.

    Kegalauan kembali menyelimuti seluruh pecinta sepakbola Indonesia. Hari yang dinanti-nanti harus kembali tertelan oleh harapan-harapan tak berujung. Hingga diputuskan tak ada kompetisi di sisa tahun ini.

    PSSI dan PT LIB sedikitnya berupaya untuk menenangkan klub bahwa kompetisi akan kembali digelar pada Februari 2021. Namun nampaknya klub sudah tak terlalu berharap dan meliburkan seluruh aktivitas tim hingga benar-benar ada kejelasan dan tentunya izin dari kepolisian.

    Selanjutnya: Banyak pemain asing hengkang 


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Tarik Ulur Vaksin Nusantara Antara DPR dan BPOM

    Pada Rabu, 14 April 2020, sejumlah anggota DPR disuntik Vaksin Nusantara besutan mantan Menteri Kesehatan Terawan Agus Putranto