Senin, 19 November 2018

Tak Dibayar Klub, Dua Pemain Asing Datangi PSSI  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ketua Umum PSSI, Djohar ArifinHusin (kiri) bersama Wakil Ketua Umum PSSI, La Nyalla Mattalitti (tengah) berpose dalam acara syukuran Kantor PSSI yang telah selesai direnovasi di areal Stadion Utama GBK Senayan, Jakarta, 2 Januari 2015. Kantor ini akan diresmikan pada 4 Januari mendatang. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    Ketua Umum PSSI, Djohar ArifinHusin (kiri) bersama Wakil Ketua Umum PSSI, La Nyalla Mattalitti (tengah) berpose dalam acara syukuran Kantor PSSI yang telah selesai direnovasi di areal Stadion Utama GBK Senayan, Jakarta, 2 Januari 2015. Kantor ini akan diresmikan pada 4 Januari mendatang. TEMPO/Dhemas Reviyanto

    TEMPO.CO, Jakarta - Julio Eduardo, 32 tahun, dan Juan Luis, 31 tahun, melangkah lemah meninggalkan kantor Persatuan Sepak Bola Seluruh Indonesia (PSSI) Senayan, Jakarta, siang ini. Wajah kedua pesepak bola asal Cile yang bermain di Persatuan Sepak bola Indonesia Pontianak (Persepon) itu menyiratkan kekecewaan. "Kami datang untuk mengadukan tunggakan gaji kami yang belum dibayar Persipon selama delapan bulan," kata Eduardo.

    Eduardo mengatakan sangat berharap bisa mendapat dukungan dari PSSI lantaran mereka sudah kehabisan duit. Celakanya, mereka juga harus meninggalkan Indonesia akhir pekan ini lantaran tak mampu perpanjangan visa. "Bagaimana kami bisa memperpanjang, kalau tidak ada uang lagi," katanya.

    Menurut Luis, mereka dikontrak Persipon sejak Mei tahun lalu. Namun setelah empat bulan mengikuti kompetisi Divisi Utama, mereka tak lagi mendapatkan gaji yang seharusnya diterima setiap bulannya. Eduardo dan Luis pun mendatangi Edi Rusdi Kamtono, Wakil Wali Kota Pontianak yang juga Manager PT Persipon Elang Khatulistiwa, perusahaan yang menaungi klub tersebut. "Tapi dia bilang tak mau bayar lagi," katanya.

    Mereka pun heran atas sikap manajemen Persipon tersebut. Sebab, kata Eduardo, kontrak mereka sudah jelas menyebutkan bahwa pembayaran gaji harus dilunasi hingga kompetisi berakhir. Tak mau dimainkan secara gratis, mereka pun memilih meninggalkan Pontianak dan datang ke Jakarta untuk mengadukan nasib mereka ke PT Liga Indonesia.

    Tak puas dengan sikap penyelenggara kompetisi itu, Eduardo dan Luis juga mendatangi Badan Olahraga Profesional Indonesia (BOPI). Namun lagi-lagi mereka belum mendapat solusi dari permasalahan yang dialaminya. "Kami disuruh menunggu karena BOPI sedang fokus menangani QNB League," katanya.

    Masa tinggal yang tinggal beberapa hari membuat Eduardo dan Luis terpaksa mendatangi PSSI. Sayang, mereka juga tak mendapat jawaban atas persoalannya itu. Malah mereka mengaku dipingpong, "Kami kembali disuruh ketemu PT Liga," katanya, "Harusnya kami mendapat solusi di PSSI," Eduardo menambahkan. 

    Eduardo lantas mengeluhkan sistem persepakbolaan Indonesia. Sebab persoalan gaji tak pernah didapatkan saat sebelumnya bermain di klub Malaysia, Thailand, maupun Singapura. "Bagaimana sepak bola di Indonesia mau maju kalau seperti ini?" katanya, "Kami akan membawa masalah ini ke FIFA."

    TRI SUHARMAN


     

     

    Lihat Juga

     


    Selengkapnya
    Grafis

    Agar Merpati Kembali Mengangkasa

    Sebelum PT Merpati Nusantara Airlines (Persero) berpotensi kembali beroperasi, berikut sejumlah syarat agar Merpati Airlines dapat kembali ke angkasa.