Manchester United Minta Mourinho Jual 10 Pemain  

Oleh :
  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Ekspresi pelatih Manchester United, Jose Mourinho usai timnya dikalahkan oleh Borussia Dortmund dalam pertandingan persahabatan di stadion Shanghai, Cina, 22 Juli 2016. Laga persahabatan tersebut berakhir untuk kemenangan Dortmund 4-1. REUTERS

    Ekspresi pelatih Manchester United, Jose Mourinho usai timnya dikalahkan oleh Borussia Dortmund dalam pertandingan persahabatan di stadion Shanghai, Cina, 22 Juli 2016. Laga persahabatan tersebut berakhir untuk kemenangan Dortmund 4-1. REUTERS

    TEMPO.CO, Jakarta - Manajer Manchester United Jose Mourinho harus menjual paling sedikit sepuluh pemain sebelum bisa membeli seorang bek tengah berkarakter pemimpin. Artinya, selain menjual Juan Mata, ia harus menjual sembilan pemain lain.

    Menurut ESPN FC, setelah memperoleh pemain termahal dunia, Paul Pogba, dari Juventus, Mourinho masih berusaha mendatangkan bek tengah berkarakter pemimpin seperti Nemanja Vidic untuk menyempurnakan timnya. Namun ia diminta petinggi United menjual lebih dulu beberapa pemain sebelum mewujudkan keinginannya itu demi menyeimbangkan keuangan klub.

    Sejauh ini, United sudah mengadakan pembicaraan informal dengan Juventus untuk memperoleh Leonardo Bonucci dan dengan Real Madrid untuk mendatangkan Raphael Varane.

    Varane sudah menolak pinangan United, sedangkan Bonucci menjadi lebih enggan meninggalkan Juventus setelah gagal dibeli Manchester City.

    Mourinho telah membelanjakan 145 juta pound sterling musim panas ini dengan membeli Pogba, Eric Bailly, Zlatan Ibrahimovic, dan Henrikh Mkhitaryan. Sejauh ini, hanya dua pemain United yang sudah dijual, yakni Paddy McNair dan Donald Love. Keduanya dibeli Sunderland dengan total nilai transfer 5,5 juta pound sterling.

    Pemain lain yang disebut-sebut akan dijual adalah Adnan Januzaj dan Bastian Schweinsteiger.

    ANTARA



     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.