Musim Transfer, David de Gea Ingin Bayaran Lebih Besar dari MU

Reporter:
Editor:

Choirul Aminuddin

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Pemain Brighton, Glenn Murray, mencetak gol ke gawang Manchester United yang dikawal David de Gea dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion The American Express Community, Brighton, 20 Agustus 2018. Action Images via Reuters/Andrew Couldridge

    Pemain Brighton, Glenn Murray, mencetak gol ke gawang Manchester United yang dikawal David de Gea dalam pertandingan Liga Inggris di Stadion The American Express Community, Brighton, 20 Agustus 2018. Action Images via Reuters/Andrew Couldridge

    TEMPO.CO, Jakarta - Manchester United kemungkinan akan tetap mempertahankan David de Gea sebagai pertahanan akhir di mistar gawang dalam musim transfer Januari 2019. Menurut perkiraan Daily Star, Setan Merah akan mengamankan kiper asal Spanyol tersebut, setidaknya hingga 2020.

    Namun demikian, laporan tabloid Inggris itu mengatakan, De Gea sepertinya ingin mendapatkan gaji sama tingginya dengan yang dibayarkan MU kepada Alexis Sanches sebesar 500 ribu pound atau setara dengan Rp 9 miliar per pekan.

    Gaji tersebut, tulis Daily Star seperti dikutip ESPN Sport, sudah termasuk bonus dan kesepakatan untuk tidak menandatangani kontrak jangka panjang hingga nasibnya ditetukan oleh manajer Jose Mourinho.

    Baca: Paris Saint-Germain Siapkan Rp 1,2 Triliun Untuk David de Gea

    De Gea adalah pemain terbaik di klub dan bermain sangat konsisten selama beberapa tahun, sehingga tuntutan gaji tinggi sebagaimana yang diinginkan bisa dimengerti.

    Saat ini, dua raksasa klub Eropa, Paris Saint-Germain dan Juventus, mengincar kiper yang diakui oleh Mouriho sebagai penjaga gawang terbaik di dunia. Bila Manchester United tidak mengabulkan permintaan De Gea bukan mustahil dia akan berlabuh di markas salah satu klub elit Eropa tersebut.


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Revisi UU ITE Setelah Memakan Sejumlah Korban

    Presiden Jokowi membuka ruang untuk revisi Undang-Undang Informasi dan Transaksi Elektronik, disebut UU ITE. Aturan itu kerap memicu kontroversi.