Ini Cerita Lucu Pemilik Bali United Saat Laga Kontra PSM Makassar

Reporter:
Editor:

Febriyan

  • Font:
  • Ukuran Font: - +
  • Polisi berusaha mengamankan suporter PSM Makassar yang membuat kericuhan Seusai laga lanjutan Liga 1 gojek Traveloka di Stadioan Mattoanging Makassar, Sulawesi Selatan, 6 November 2017. Pertandingan di hentikan setelah gol Bali United di menit terakhir dan suporter melempar dan merusak sejumlah fasilitas stadion. TEMPO/Iqbal Lubis

    Polisi berusaha mengamankan suporter PSM Makassar yang membuat kericuhan Seusai laga lanjutan Liga 1 gojek Traveloka di Stadioan Mattoanging Makassar, Sulawesi Selatan, 6 November 2017. Pertandingan di hentikan setelah gol Bali United di menit terakhir dan suporter melempar dan merusak sejumlah fasilitas stadion. TEMPO/Iqbal Lubis

    TEMPO.CO, Makassar - Kemenangan 1-0 Bali United atas PSM Makassar pada Senin kemarin, 6 November 2017, menyisakan cerita lucu bagi Pieter Tanuari. Pemilik Bali United itu terjebak di kawanan suporter PSM Makassar tanpa ada yang mengenalinya hingga harus dievakuasi dari stadion dalam kondisi mencekam menggunakan mobil lapis baja Barracuda milik Brimob Polda Sulawesi Selatan.

    Pieter menyaksikan langsung laga panas penentuan nasib kedua tim untuk menjuarai Liga 1 musim ini. Baru tiba dari Amerika Serikat untuk urusan bisnis pada pagi harinya, Pieter pun langsung terbang menuju Makassar demi menonton laga itu.

    Di Stadion Mattoanging, Pieter berbaur dengan penonton di tribun tertutup bagian barat. Saat itu, ia satu-satunya penonton yang mengenakan baju selain warna kebanggaan suporter tuan rumah, merah marun. Pieter memilih mengenakan baju berwarna hijau.

    Tidak ada yang mengenalinya saat itu. Pieter pun mengaku terpaksa mengikuti alur para suporter PSM Makassar dengan berdiri dan bersorak, lalu sesekali bernyanyi, mengikuti irama lagu yang dinyanyikan pendukung tuan rumah.

    "Saat PSM menyerang dan membahayakan gawang Bali United, saya ikut bertepuk tangan, berteriak, seperti pendukung PSM," kata Pieter.

    Namun dia tak bisa menahan kegirangannya saat Stefano Lilipaly mencetak gol untuk Bali United pada masa tambahan waktu. Spontan pria kelahiran 21 Oktober 1963 itu berteriak kegirangan sambil mengangkat kedua tangannya.

    “Saat itu, saya baru sadar ternyata berteriak kegirangan, sementara semua orang terdiam. Saya baru sadar ada di tengah suporter PSM,” ujarnya mengenang sambil tertawa.

    Khawatir terjadi sesuatu, ia lalu mengamankan diri dengan turun dari tribun ke lantai satu. Sesaat kemudian, suasana berubah menjadi tidak kondusif. Itu terjadi setelah wasit meniup peluit panjang tanda berakhirnya pertandingan.

    Pieter merasakan suasana mencekam. Seluruh pemain dan ofisial Bali United diamankan ke tengah lapangan dengan berlindung di bawah tameng aparat keamanan.

    Ribuan penonton masuk ke lapangan. Botol dan benda-benda keras lain juga melayang. Semua pemain dan ofisial lalu dievakuasi menggunakan mobil Barracuda menuju Markas Korps Brimob di Jalan K.S. Tubun, Makassar. Pieter juga ikut di dalamnya.

    "Selama ini, saya yang selalu minta mobil Barracuda dihadirkan kalau Bali United menjadi tuan rumah. Tapi kali ini saya yang akhirnya merasakan naik Barracuda,” ujar pria kelahiran Jakarta, 21 Oktober 1963, ini.

    Ia mengaku selama ini hanya menyaksikan kerusuhan di stadion lewat layar kaca. Termasuk menyaksikan orang dievakuasi memakai mobil lapis baja milik Polri.

    Meskipun demikian, pengorbanan Pieter terbayar tuntas. Bali United mampu menang 1-0 atas PSM Makassar dan tetap memiliki peluang menjuarai Liga 1 musim ini.

    LIGA INDONESIA


     

     

    Lihat Juga



    Selengkapnya
    Grafis

    Korban Kasus Peretasan, dari Rocky Gerung hingga Pandu Riono

    Peretasan merupakan hal yang dilarang oleh UU ITE. Namun sejumlah tokoh sempat jadi korban kasus peretasan, seperti Rocky Gerung dan Pandu Riono.